Pages

Saturday, November 5, 2011

Refrain, by Winna Efendi



Refrain: novel karya Winna Efendi yang pertama kali aku baca. Jujur deh, dulu, aku nggak kenal penulis dengan nama "Winna Efendi" (mungkin karena dulu aku cuma baca teenlit terbitan gramed) sebelum temenku "pamer" novel Refrain ke sekolah.

Pertama-tama liat novel ini, yang kulihat adalah covernya *ya iya lah*. Kalau menurutku, covernya unik banget: ada amplopnya! Dan ternyata di dalam amplop ada tulisan "It's always been you". Keren banget kan....

Sinopsisnya gak kalah keren sama covernya lho... Begini sinopsisnya:
Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

**

Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cinta harus ada yang terluka.

Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai.

Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri.

**
Kalau bicara tentang isi, menurutku --dan beberapa temanku yang sudah membaca buku ini-- ceritanya sangat sederhana. Tentang cinta yang tumbuh ke sahabat kecil. Kalau mau tahu isi selengkapnya, bisa baca sendiri novelnya... : D

Tapi, walaupun sederhana --seperti yang tertulis di sinopsis "Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa"-- kak Winna Effendi mampu menyajikannya dengan gaya menulis yang gak ada tandingannya. Ceritanya bisa begitu mengalir dan enak dibaca. Cocok banget buat kamu yang suka novel ringan.


Kekurangan novel ini? Hm... Apa ya? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang~ *lho?*
Karena aku juga gak tahu kekurangannya apa.... : )

Dan yang terakhir, aku cuma mau bilang: abis baca novel ini, jangan kaget kalau kamu bakal pengen baca novelnya kak Winna yang lain. Hehe..

Tuesday, November 1, 2011

Bioloveculer #3 : I love you, more than I love biology













I love learning about glycolysis,
But I love learning about your gestures more.

I love imagining about the cell's activity,
But I love imagining about your daily activities more.

I love looking at the DNA's structure,
But I love looking at your eyes more.

I love remembering about the metabolism process,
But I love remembering about your sweet fragrance more.

I love molecular biology,
But I love you more

Monday, October 31, 2011

Bioloveculer #2 : Broken Heart









I guest, Our love will lasts forever,
Even when we have been in the heaven.

But, my guess is incorrect.
Your another love enters our Love Cell.
And makes some Deletion Mutations
In our Faith Chromosomes. 


Do you know how sad I am?
Because you had done the autolysis in our Love Cell
Before our Love Cell could be replicated.

However,
You have to know
Whenever you are
Wherever you go
I will always love you
Even though you have broken my heart...  :' )

Saturday, October 29, 2011

God will give you the best!

Pernahkah kamu mengalami saat dimana hidup terasa begitu membingungkan?
Pernahkah kamu mengalami saat dimana hidup terasa penuh dengan ketidak adilan?
Pernahkah kamu mengalamu saat dimana hidup terasa menyedihkan dan memilukan?

Pernahkah kamu merasa bahwa kamu sudah berusaha keras, tetapi takdir tak memihak padamu?
Pernahkah kamu merasa bahwa kamu sudah yakin tentang keberhasilanmu, tetapi takdir berkata lain?

Begitu menyakitkan, bukan?
Apalagi kamu telah mencobanya berkali kali, namun tetap gagal juga.

Apakah rasa sakit itu membuatmu menangis?
Atau membuatmu memaki Tuhan karena dia tidak mengabulkan doamu?
Atau membuatmu rendah diri dan tak berani lagi menatap masa depan?
Atau membuatmu lebih memilih pesimis daripada optimis, karena optimis membuatmu 2x lebih sakit saat keinginanmu tak terkabul?
 
Tapi, sadarkah kamu?
Bahwa kegagalan bisa membuatmu menjadi lebih baik.
Bahwa kegagalan bisa membuatmu terpacu untuk lebih bekerja keras.
Bahwa kegagalan bisa membuat kemenanganmu kelak menjadi begitu menggembirakan.

Dan percayalah,
Walaupun takdir tak bisa ditebak, tetapi takdir akan berada di sisimu. Suatu saat nanti.
Lagi pula, setiap kali kamu gagal (saat sudah berusaha semaksimal mungkin) berarti Tuhan memindahkan kemenanganmu ke waktu yang lain.
Maka, optimislah bahwa Tuhan akan memberimu yang terbaik.
"The darkest night is often the bridge to the brightest tomorrow" - Jonathan Lockwood

God Bless You :)

Tuesday, October 11, 2011

BioLovecular : Biomolecular lover's love words


Aku dan kamu...
Kita seperti basa purin dan pirimidin yang saling melengkapi
Membentuk untaian cinta yang lebih panjang daripada DNA dalam kromosom tubuh kita sendiri

Aku dan kamu...
Kita bersatu membentuk cinta yang bulat tak berujung
Seperti DNA sirkuler pada bakteri: plasmid

Aku dan kamu...
Tak ada intron dalam cinta kita
Semuanya ekson
Karena buah-buah cinta kita selalu bermakna

Tahukah kamu?
Bahwa kamu seperti Magnesium.
Eh tidak, maksudku kamu benar-benar Magnesium
Kamu adalah pusat cincin porifin dalam hijaunya klorofil cinta di hatiku.

with love,
Your Love

Saturday, September 17, 2011

Infinitely Yours - by Orizuka

Infinitely Yours, novel terbarunya kak Orizuka, akhirnya kudapatkan juga setelah penantian selama sebulanan. *yeaay!

Apa sih yang bikin novel ini menarik, kok sampai aku bela-belain bolak-balik gramed tiap hari cuma buat ngecek apa novel ini udah ada?
Jawabannya: karena covernya!

Mungkin jawabanku kaya jawaban anak SD yang milih makanan cuma gara-gara warna-warninya.
Tapi ya begitulah kurang lebihnya.
Pertama kali kulihat desain covernya di grup FB Orizuka Novels, aku langsung tertarik. Bukan cuma warna birunya yang bikin aku fell in love at the first sight, tapi juga gambar simpel seorang cowok yang lagi pegang balon sambil meluk ceweknya. Gambarnya itu simpel banget (kaya gambar anak tk). Ya kan? Tapi juga CHARMING banget! :D

Abis jatuh cinta sama covernya, eeeh, waktu liat sinopsisnya langsung mabuk cinta deh sama ini novel. (hiperbolis mode:on) :p
Kata-katanya indah banget. Dan meyakinkanku bahwa endingnya bakal happy (baca: gak ada tokoh yang mati). Sekedar intermezzo, aku agak males baca novel yang sad ending. Soalnya bikin nangis. hehe...
Begini sinopsisnya:

Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan.
Tapi, bagaimana caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?

Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan.
Sekeras apa pun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri—dan menjauhkan hati—pada akhirnya akan bertemu kembali.

Kau tak percaya takdir, aku pun tidak.
Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya....
Kau, aku, dan perjalanan ini.
Begitulah sinopsisnya. Dan ternyata isinya sangat cocok dengan sinopsisnya.

Novel bergenre romantic-comedy ini bercerita tentang seorang cewek energetik penggila Korea dan seorang pria dingin, kaku, dan selalu mementingkan logika daripada perasaan. Mereka kebetulan ikut dalam sebuah tour ke Korea dan saling jatuh cinta.
Tentunya, cerita ini tak cuma sekadar bertemu-lalu-jatuh-cinta-kemudian-jadian. Tapi juga tentang bagaimana jika perasaan dikaitkan dengan logika.
Penasaran tentang lanjutannya? Baca sendiri, dan nikmati romantisnya.

Untuk para penggemar K-POP, novel ini bagaikan kado spesial dari kak Ori. Ceritanya adalah tentang jalan-jalan di Korea. Tak lupa juga, bagian-bagian dari novel ini diberi judul lagu K-POP terkenal. Karya ke-13 Orizuka ini bakal membawamu pada tour romantisme Korea. Dan dijamin abis baca, kamu jadi makin pengin mengunjungi negara negeri romantis itu.

Kalau kamu bukan penggemar K-POP, janganlah khawatir. Novel ini tetap bisa dinikmati, sekalipun oleh pembaca non K-Poppers. Orizuka sukses membuat pembacanya ngakak guling-guling. Dan siap-siap aja buat kamu yang bukan K-Poppers kalau jadi jatuh cinta sama K-Pop. ^o^

Top deh buat kak Orizuka. Walaupun penerbitannya sempat tertunda, tapi isi dari novelnya bener-bener bisa ngobatin kekecewaan karena lama nunggu terbitnya.

FIVE STARS for Infinitely Yours!
Jjang!

Monday, September 12, 2011

Pilihan

(cerpenku jaman jadul) ^^

Lusa, anak-anak kelas sembilan A menghadapi ulangan geografi. Semua anak belum belajar kecuali Ciara. Ciara suka dengan pelajaran geografi, wajar saja kerena cita-citanya adalah menjadi staf di BMG. Karena itu, ia ingin mendapatkan nilai yang baik.

Pagi itu, saat Ciara sedang asik membaca buku di bangkunya, seorang perempuan berkata dengan sinis, “Hey, kamu yang sok rajin!” perempuan itu adalah Lucia.

Sontak Ciara kaget lalu mengalihkan pendangannya ke Lucia. Ciara lalu berkata pada Lucia, “Kenapa? Ada yang salah jika aku belajar untuk ulangan geografi?”

“Tidak,” jawab Lucia. “Aku hanya ingin memintamu untuk memberiku sontekan ulangan geografi, dan kamu harus mau.”

“Apa?” tanya Ciara spontan. Ciara tak pernah curang saat ulangan. Ia juga tak rela jika jawabannya dilihat temannya karena itu juga curang menurutnya. Oleh karena itu ia selalu membuat benteng dari alat tulis untuk melindungi jawabannya.

Lucia pun mengulangi ucapannya dengan santai, “Berikan sontekan untukku saat ulangan geografi besok. Kalau kamu tidak mau…” Lucia tak meneruskan kalimatnya.

“Kalau aku tidak mau, kau mau apa?” tanya Ciara penasaran namun takut.

“Kalau tidak mau kamu dan sahabat baikmu, si lemot itu akan dikucilkan oleh seisi kelas ini,” ancam Lucia.

“Jangan panggil sahabatku lemot!” bentak Ciara. “Namanya Natya,” Ciara menambahkan. “Bagaimana kamu melakukan rencanamu itu?”

“Mudah saja. Aku akan memberi mereka uang dan kusuruh mereka menjauhimu. Lagipula kamu kan tak punya teman baik selain Natya si lemot. Siapa sih yang mau berteman dengan orang lemot dan yang sok rajin?” ujar Lucia. Lucia memang anak orang kaya dan ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, jadi itu semua mungkin.

Mendengar ancaman Lucia, Ciara menjadi takut. Dulu saat masih SD, ia bersama sahabatnya sudah pernah dikucilkan oleh seisi kelas kerenanya. Oleh sebab itu, saat SMP, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak kan membiarkan sahabatnya ikut sengsara karena ulahnya.

“Oya, jangan beritahukan ini pada siapapun, kalau tidak, awas kamu!” ancam Lucia lagi. Wajah Ciara pun menjadi pucat ketakutan.

Setelah melihat muka Ciara yang menjadi pucat, Lucia tersenyum puas lalu pergi meninggalkan Ciara.

Ancaman dari Lucia membuat Ciara tidak konsentrasi saat pelajaran. Ada guru yang mengira Ciara sedang sakit dan menyuruh Ciara ke UKS, tapi Ciara berkata ia baik-baik saja.

Natya juga bertanya pada Ciara apakah Ciara baik-baik saja. Dan Ciara terpaksa berbohong pada sahabatnya dan mengatakan ia biaik-baik saja.

Sepulang sekolah, Lucia kembali mengingatkan Ciara tentang ancamannya. Itu membuat Ciara makin takut dan gelisah. Ia tak tahu harus berbuat apa.

Siang berganti malam. Malam berganti pagi. Itu artinya ulangan geografi tinggal besok. Rasa takut Ciara semakin tak karuan. Apa yang harus kupilih? Kejujuran atau Pertemanan? Hati Ciara bertanya.

Pelajaran hari ini dilewatkan Ciara tanpa konsentrasi. Yang ada di pikirannya hanyalah dua pilihan yang sulit itu. Sepulang sekolah, Natya menanyakan pada Ciara apakah Ciara sedang punya masalah. Tapi Ciara tak menjawab.

“Ya sudah. Kalau kamu tak mau menceritkannya padaku tak apa-apa,” kata Natya pada sahabatnya itu dan berjalan meninggalkan Ciara.

“Natya!” panggil Ciara sambil berlari mengejar Natya.

“Apa? Kau ingin menceritakan masalahmu padaku?” tanya Natya seolah tahu apa yang ada di dalam kepala Ciara.

“I… iya,” jawab Ciara gugup. Ia takut karena Lucia telah menyuruhnya tutup mulut tentang masalah itu.

“Hm, kalau kamu mau menceritakan masalahmu padaku, jangan gugup begitu. Lagi pula disini sudah lumayan sepi,” kata Natya.

Setelah memastikan Lucia sudah pulang, Ciara menceritakan masalahnya pada Natya. Natya hanya mengangguk-angguk saat mengetahui bahwa masalah itu menyangkut dirinya.

“Lalu, aku harus berbuat apa?” tanya Ciara setelah selesai menceritakan masalahnya pada Natya.

Natya memasang muka heran, lalu bertanya kembali, “Ciara, maaf. Kenapa kamu menanyakan padaku apa yang harus kamu perbuat?”

“Karena kamu sahabatku, dan kamu pasti tahu apa yang kamu perbuat. Lagipula kamu yang telah menyuruhku menceritakan masalahku. Seharusnya kamu beri aku jawaban atas masalahku!” Emosi Ciara naik. “Kalau kamu tak bisa memberikan aku jawaban, lalu aku harus bertanya pada siapa agar yang kuperbuat itu benar?”

“Ciara, setiap pilihan punya resiko,” Natya berkata dengan lembut. “Dan yang bisa menjawabnya…” Natya tak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Ternyata ia sudah ditunggu supirnya dari tadi.

“Ciara, maaf. Aku sudah harus pulang,” pamit Natya.

“Lalu aku harus bertanya pada siapa?” tanya Ciara memohon jawaban dari Natya.

Natya hanya tersenyum lalu ia menunjuk Ciara. Setelah itu Natya berlari meninggalkan Ciara.

Ciara kebingungan. Ia sempat menoleh ke belakang. Namun tak ada siapa-siapa. Berarti yang ditunjuk Natya memang dirinya. Mengapa aku yang bertanya, tapi aku yang menjawabnya? Tanya Ciara dalam hati.