Pages

Saturday, December 10, 2011

Chef Choi's diary eps. 1 part 3

Pintu lift terbuka.
 Lagi-lagi si Gadis Ikan Mas! *entah kenapa aku ingin menamainya Ikan Mas*
Rupanya dia juga tinggal di gedung ini, aku menyimpulkan.

Aku tak menanggapi ketika ia berkata masih merasa malu dan minta maaf karena mengira aku sebagai asisten barunya.
Aku justru mengingatkan tentang kencan malam ini padanya, kemudian aku langsung keluar.
Aku tak sabar menunggu malam ini.

Hari ini akan kubuat berbeda dengan kemarin.
Akulah yang berkuasa di dapur sekarang.
Sekarang akan kutunjukkan diriku yang sebenarnya.

Benar-benar payah!
Makan mereka seperti sampah.
Tak layak untuk disajikan, apalagi di restoran ternama seperti La Sfera.

"Prang!"
Kulempar makanan sampah itu ke lantai.
Mereka terlihat kaget, namun aku tak peduli.
Dan aku terus memberi mereka "kejutan-kejutan" yang lainnya.

Bagus. Keempat wanita sudah melakukan kesalahan. Termasuk Ikan Mas.
Ia tak sengaja membuat hujan minyak panas.
Namun entah kenapa, tubuhku langsung bergerak refleks untuk melindunginya dari minyak panas itu.

Setelah jam makan malam, aku menegur mereka, para gadis yang seharian telah membuat berbagai kesalahan.
Mereka sukses tercengang-cengang tidak percaya saat aku memecat mereka satu per satu.
Aku puas.
Tidak ada lagi wanita di dapurku.

"Bagaimanapun, kau tetap akan memecat wanita, bukan?" tuduh Ikan Mas saat kami bertemu di jalan malam harinya.
Memang benar. Aku merencanakannya dari awal. Dan ia sudah menyadarinya.
Oleh karena itu, aku tidak ingin menjawab.

Aku hanya bertanya, "Kau belum pernah berkencan dengan pria sebelumnya, kan?"
Aku lalu mendekat dan berkata padanya, "Ayo kita berkencan."

 Entah kenapa aku merasa bahwa ia sangat menarik.

Chef Choi's diary eps. 1 part 2

Aku berjalan masuk dengan percaya diri.
Gadis yang kutemui kemarin memanggilku dan menyuruhku ikut berbaris.
 
Aku tak menanggapinya.
Aku menjabat tangan Presiden, lalu berjalan menuju ke depan barisan.
Lalu aku memperkenalkan diriku.
Aku kembali mengamati gadis itu.
 
Ekspresi bingungnya membuatku tertawa dalam hati.
Cepat atau lambat, Ia harus menahan malu atas perbuatannya kemarin.
 
Aku menyalami para staf satu per satu.
Kubiarkan mereka terpesona padaku, sebelum kutunjukkan sisi lainku.
sampai akhirnya aku berjalan ke barisan terbelakang, tempat si gadis berdiri.
 
Seo Yoo Kyung. Ia memperkenalkan dirinya -- tentu saja -- dengan malu-malu.
Aku tersenyum puas melihat tingkahnya.
 
Di dapur, aku menyuruh para koki menyiapkan makan seperti biasa.
Aku mundur dengan tenang, dan melihat cara mereka bekerja.
 
Si gadis -- Yoo Kyung maksudku -- tetap terlihat profesional, walaupun kami pernah bertemu sebelumnya.
Namun, cara memasaknya masih kacau balau.
Melihatnya menggoyang wajan dengan salah, aku lantas memberikannya contoh sebentar.
Tidak perlu lama, karena ia akan segera keluar dari dapur.
"Ini bukan dapurku. Dapurku baru akan mulai," kataku pada manajer saat restoran telah tutup.

Chef Choi's diary eps. 1 part 1



"Bruk"
Kulihat seorang gadis jatuh karena ditabrak seorang pria yang sedang terburu-buru.
Aku lantas menghampiri gadis itu untuk menolongnya.
Di tengah zebra cross, kulihat gadis itu sedang berusaha memungut ikan mas yang terlihat menggeliat sengsara.
Aku menyuruh gadis itu untuk merapatkan kedua tangannya. Lalu dengan cepat aku menaruh ikan mas sekarat itu di tangannya, kemudian menuang air ke dalamnya.
Kulihat lampu hampir berubah. Kusuruh gadis itu berlari ke trotoar. Aku mengikutinya sambil membawakan barang belanjaannya.
Untunglah kami tepat waktu.

Gadis itu berterima kasih padaku. Lalu kami saling mengucapkan selamat tinggal.
Eits!
Aku langsung tersadar. Bagaimana dengan belanjaan gadis itu?
Akhirnya aku bersedia membawakan belanjaan itu sampai tujuan si gadis.


Sesekali aku menuang air ke tangannya. Untuk mengusir kecanggungan diantara kami, aku melontarkan fakta lucu tentang ikan mas, yang hanya punya ingatan dua detik.

Sesampainya di tempat tujuan si gadis, entah kenapa rasanya aku enggan berpisah. Aku merasa kami saling tertarik. Aneh sekali.
Saat aku hendak pergi, tiba-tiba gadis itu ingat bahwa ia tidak dapat membuka pintu. Ia lalu memintaku untuk membukakan pintu.
Sungguh sulit menemukan kunci yang dimaksud gadis itu. Kuncinya tidak ada di dalam tas. Ia lantas menyuruhku mengambil kuncinya di kantong jaketnya.

"Apa kau sengaja berkata kau tidak ingat dimana kau meletakkan kuncimu agar aku mencari kemana-mana?" candaku pada gadis itu.
Beberapa saat kemudian, akhirnya aku menemukan kunci itu. Aku tidak langsung membukakan pintunya. AKu memikirkan sesuatu.

"Apa nanti malam kau bebas?" aku bertanya dengan sedikit cengiran. Kulihat gadis itu terperanjat. Ekspresinya sangat lucu, membuatku tertawa.
"Mengapa ragu-ragu? Kau seharusnya menolak jika diajak untuk pertama kalinya," kataku lagi.

Ia berkata bahwa ia bebas setelah jam 11 malam. Aku pun menjawab, "Pria dan wanita bertemu dalam kencan pertama mereka di waktu seperti itu hanya ada satu hal yang bisa dilakukan. Tidur bersama. Itu pasti bukan maksudmu, tapi aku senang dengan pikiran itu."

"Aku baru selesai kerja jam segitu. Aku hanya berpikir mau membelikan bir dan berterima kasih," katanya meluruskan.

"Kau bisa meletakkan ikan itu sebentar dan mencari kuncinya sendiri, tanpa membuatku merabanya kesana-kemari," sindirku kemudian

"Baik, ayo ketemu jam 11 malam. Di tempat yang sama, di jalan. Tidak malam ini, tidak besok pagi, tapi lusa. Aku pura-pura sudah ditolak malam ini dan besok pagi, demi harga dirimu, ok?" ajakku -- maksudku paksaku.
Ia tersenyum tanda setuju.
Aku pun membukakan pintunya kemudian.

Sebelum aku pergi, aku menanyakan di mana La Sfera karena aku akan bekerja di sana.
Aku sangat terkejut melihat tulisan La Sfera di balik pintu yang baru saja kubuka.
"Lalu, apa kau adalah koki... disini?" aku bertanya. Aku masih terkejut.

Bukannya menjawab pertanyaanku, ia justru memanggilku "Maknae", membuatku makin terkejut.
Ia lalu masuk ke dapur, meletakkan ikan mas pada gelas, lalu memperkenalkan dapur padaku. Ia juga meninggalkan bahasa formalnya, mengira bahwa aku adalah juniornya.

Aku tertawa dalam hati. Lucu sekali gadis ini, batinku.
Aku pun tidak berniat memberitahunya jabatanku yang sesungguhnya. Aku ingin menikmati permainannya, untuk saat ini.

Chef Choi's diary Prolog

Ini hanyalah karya kecilku sebagai seorang fans drama korea "Pasta". Aku sebenarnya menulis diary ini sebagai obat kerinduanku pada dramkor tersebut. : )
Mulanya aku cuma nge-share diary ini di grup FB. Tapi kupikir-pikir, lumayan juga kalau aku nge-share di Blog. Lebih jauh jangkauannya. *kaya iklan operator HP aja* : p
So, Happy reading! (oya, leave comments juga yaa )
 ***


Yoo Kyung: Buku apa ini, Chef? (mengambil sebuah buku di samping tempat tidur Chef)
Chef: Jangan dilihat! (Chef merebut buku itu dari tangan ikan mas). Ini diary-ku.
Yoo Kyung: Tak kusangka ternyata Chef punya diary.... Apa diary itu berisi resep-resep makanan juga, seperti yang dulu pernah Chef berikan padaku?
Chef: Tentu saja tidak. Kalau berisi resep, aku justru akan memberikannya padamu lagi, bukannya merahasiakannya.
(Yoo Kyung mengangguk-angguk)
Yoo Kyung: Berarti isinya seperti diary-diary biasa?
Chef: Tentu saja tidak.
Yoo Kyung: Lalu, apa spesialnya?
Chef: Spesialnya karena diary ini meceritakan kembali kisah kita.
Yoo Kyung: Benarkah, Chef?
(Chef tersenyum)
Yoo Kyung: Chef...
Chef: Iya, Ikan Mas..
Yoo Kyung: Ijinkan aku melihat diarymu.
Chef: Tidak kuijinkan.
Yoo Kyung: Chef... (sambil menggoyang-goyangkan bahu Chef)
Chef: Apa lagi, Ikan Mas?
Yoo Kyung: Diary... Aku ingin melihatnya... Bagaimanapun ini kisah kita, kan? Aku ingin mengingat-ingatnya lagi...
Chef: Kau belum pernah pacaran denganku ya?
Yoo Kyung: Tuh kan.... Chef malah mulai lagi...
(Chef tertawa)
Yoo Kyung: Ya sudah... Aku pergi saja!
Chef: Tunggu ikan mas! (mencekal tangan Yoo Kyung). Aku kan hanya bercanda.
Yoo Kyung: Jadi?
Chef: Kau boleh melihat isi diary ini, Ikan Mas... Asal jangan pergi... Aku bisa mati kalau kau pergi... (menyodorkan diary-nya pada Yoo Kyung)
Yoo Kyung: (Mengambil diary-nya). Ya, Chef. Aku tak akan pergi. Aku akan setia di sini sambil membaca diary Chef ini.
Chef: terima kasih, Ikan Mas-ku.
^^

Friday, December 9, 2011

Sag mir, dass du mich liebst. -- Katakan padaku bahwa kau mencintaiku

Kau benar-benar pria yang jenius. Kau pintar sekali membuatku gelisah. Kau selalu mengerti bagaimana membuatku gundah. Kau sangat mahir menembus otakku dan membuatku memikirkanmu sepanjang hari.

Tahukah kamu bagaimana sedihnya aku saat kau meninggalkanku? Kau pergi jauh tanpa mengatakan apapun padaku. Kau tak pernah sesekali mencoba untuk menghubungiku. Kau meninggalkanku dalam sebuah kegalauan.

Tahukah kamu betapa aku menginginkanmu? Aku ingin menjadi bagian dalam hidupmu. Menjadi air di saat kau haus, menjadi obat bius saat kau kesakitan, dan menjadi saputangan yang bisa menghapus airmata sedihmu.

Aku tak keberatan meruntuhkan harga diriku. Aku rela mengatakan rasa terpendam ini lebih dulu. Tahukah kamu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan alamatmu yang baru? Ke sanalah aku telah mengirimkanmu berpuluh-puluh surat tentang perasaanku. Aku juga telah mengirimkanmu SMS dan email tiap hari yang isinya sama (bahwa aku mencintaimu) -- yang belum pernah satu pun kau balas.

Tak tahukah kau bagaimana kekecewaanku ketika surat yang datang ternyata bukan darimu? Saat ponselku berdering dan yang masuk bukanlah SMS balasanmu? Dan saat aku membuka email, hanya ada spam yang selalu memenuhi inbox-ku?

Apakah kau benar-benar sudah tidak ingin bersamaku? Apa kau sudah bosan menjalin hubungan denganku? Aku benci berpikir bahwa kau seperti anak kecil yang sangat menyayangi mainan barunya, tetapi meninggalkannya saat ia sudah bosan. Aku benci diriku sendiri karena masih mencintai pria sepertimu.

Berilah aku satu kalimat saja. Beri tahu aku bahwa kau juga mencintaiku. Maka aku akan menunggumu. Menunggumu kembali ke sisiku dan menghapus pikiran buruk tentangmu.
Atau beri tahu aku bahwa kau tidak merasakan cinta seperti yang kurasakan. Aku akan menghargai kata-kata dan perasaanmu. Tapi, jangan lupa bahwa München dan Leipzig telah menjadi saksi bisu tumbuhnya kenangan indah kita. Kenangan ketika aku berada dalam dekapanmu dan melihat binar-binar cinta di bola matamu. Kau tak bisa memungkiri hal itu.

Also, sag mir dass du mich liebst
.

Saturday, November 5, 2011

Refrain, by Winna Efendi



Refrain: novel karya Winna Efendi yang pertama kali aku baca. Jujur deh, dulu, aku nggak kenal penulis dengan nama "Winna Efendi" (mungkin karena dulu aku cuma baca teenlit terbitan gramed) sebelum temenku "pamer" novel Refrain ke sekolah.

Pertama-tama liat novel ini, yang kulihat adalah covernya *ya iya lah*. Kalau menurutku, covernya unik banget: ada amplopnya! Dan ternyata di dalam amplop ada tulisan "It's always been you". Keren banget kan....

Sinopsisnya gak kalah keren sama covernya lho... Begini sinopsisnya:
Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

**

Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cinta harus ada yang terluka.

Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai.

Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri.

**
Kalau bicara tentang isi, menurutku --dan beberapa temanku yang sudah membaca buku ini-- ceritanya sangat sederhana. Tentang cinta yang tumbuh ke sahabat kecil. Kalau mau tahu isi selengkapnya, bisa baca sendiri novelnya... : D

Tapi, walaupun sederhana --seperti yang tertulis di sinopsis "Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa"-- kak Winna Effendi mampu menyajikannya dengan gaya menulis yang gak ada tandingannya. Ceritanya bisa begitu mengalir dan enak dibaca. Cocok banget buat kamu yang suka novel ringan.


Kekurangan novel ini? Hm... Apa ya? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang~ *lho?*
Karena aku juga gak tahu kekurangannya apa.... : )

Dan yang terakhir, aku cuma mau bilang: abis baca novel ini, jangan kaget kalau kamu bakal pengen baca novelnya kak Winna yang lain. Hehe..

Tuesday, November 1, 2011

Bioloveculer #3 : I love you, more than I love biology













I love learning about glycolysis,
But I love learning about your gestures more.

I love imagining about the cell's activity,
But I love imagining about your daily activities more.

I love looking at the DNA's structure,
But I love looking at your eyes more.

I love remembering about the metabolism process,
But I love remembering about your sweet fragrance more.

I love molecular biology,
But I love you more