Tuesday, February 28, 2012
Für einen Mann
-- (Eigentlich ist das meine Deutsch Hausaufgabe) --
Für einen Mann, den ich zum erste mal unter dem Regen traf.
Danke für die warme Umarmung, als mein Herz kalt war.
Danke für das Licht deiner Augen, während meine Welt dunkel war.
Danke für die Ermutigung, als ich verzweifelt war.
Für einen Mann, der ein cooles Lächeln hat.
Danke für alles, was du mir gab.
Vergiss mich,
aber vergiss bitte nicht die schöne Zeit, die ich mit dir verwendete.
Ich bin sehr glücklich, weil ich dich kennen kann.
Für einen Mann, der mich liebte.
Darf ich mal sagen?
Ich will dich sehr vermissen.
Noch liebe ich dich.
:')
Tuesday, January 24, 2012
Why do...?
Dear you, yang telah memberiku sebuah kenangan di bawah hujan,
Masih ingatkah kau akan kenangan itu?
Hm... mungkin tidak...
Itu hanyalah peristiwa kecil.
Kala itu, kita berjalan bersama, di bawah payung bewarna biru laut milikmu. Hanya berjalan, hingga sampai ke halte bus. Kemudian aku mengucapkan terima kasih karena telah mengantarku ke halte bus.
Ya. itu memang hanya peristiwa kecil, tak lebih dari 5 menit.
Tapi bagiku, peristiwa itu sangat berarti, karena dari sanalah tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku.
Dear you, yang selalu membiusku dengan mata abu-abumu,
Tak tahukah kamu, bahwa aku selalu memperhatikanmu?
Aku selalu mengingatmu dengan jelas:
Rambutmu yang terlihat kemerahan di bawah terik matahari, alismu yang tegas, rahangmu yang kokoh, bibirmu yang tipis, kulitmu yang kekuningan, badanmu yang tegap, dan mata abu-abumu yang selalu terlihat bersinar di kala kau bahagia.
Hari demi hari, kau makin terlihat sempurna bagiku.
Dear you, yang membuatku menyukai apa yang kubenci.
Aku merasa, kau begitu menikmati hidup ini. Kau begitu apa adanya, tak pernah jaim sekalipun. Dan mungkin itulah yang membuatmu selalu terlihat bahagia.
Kau selalu memandang sesuatu dari sisi yang berbeda. Kau menemukan apa yang orang biasa tidak bisa menemukannya. Kau membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.
Mengagumimu, membuatku ingin tahu segalanya tentangmu. Dan dari hari ke hari, kau membuatku menyukai apa yang kau sukai, termasuk apa yang selama ini kubenci.
Dear you, yang menganggapku seperti angin lalu.
Setelah peristiwa itu, tak sekalipun kau menyapaku. Aku bahkan ragu apakah kau mengetahui namaku. Kau menjalani hari-harimu seperti hari-hari sebelumnya: tanpa aku.
Apa aku ini transparan? Aku memang bukan seorang gadis yang cantik, pun bukan yang pintar. Aku tahu, aku tak pantas bersanding denganmu, orang yang hampir sempurna.
Dear you, yang telah kutunggu selama 3 tahun,
Selama itulah kau sudah bersarang dalam hati dan pikiranku. Selama itulah aku selalu ingin mencoba mendekatimu. Aku ingin menyapamu, dan berharap kau akan menyapaku balik. Tapi selama itu juga aku tak pernah melakukannya, karena aku takut kau akan menjauhiku setelah tahu perasaanku.
Hari ini tepat tiga tahun semenjak peristiwa hujan itu. Sampai sekarang, aku masih menunggumu. Sudah berkali-kali aku merasa lelah akan penantian yang mungkin sia-sia ini. Aku sudah mencoba untuk melupakanmu dan membuka hatiku pada cinta yang lain. Tapi, bagaimana aku bisa melupakanmu jika setiap waktu kau selalu memabukkanku dengan bayang-bayangmu?
Seandainya aku tahu harus berapa lama aku menunggu. Satu bulan? Dua bulan? Tiga bulan? Satu tahun pun akan ku lakukan. Apalah arti satu tahun dibandingkan dengan tiga tahun ini?
Harus sampai kapan aku menunggumu sampai kau bisa membuka matamu dan melihatku?
Dear you, my first love,
Kau membuatku selalu bertanya:
Why do I still keep wanting you, although I know that you'll never "see" me...?
Masih ingatkah kau akan kenangan itu?
Hm... mungkin tidak...
Itu hanyalah peristiwa kecil.
Kala itu, kita berjalan bersama, di bawah payung bewarna biru laut milikmu. Hanya berjalan, hingga sampai ke halte bus. Kemudian aku mengucapkan terima kasih karena telah mengantarku ke halte bus.
Ya. itu memang hanya peristiwa kecil, tak lebih dari 5 menit.
Tapi bagiku, peristiwa itu sangat berarti, karena dari sanalah tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku.
Dear you, yang selalu membiusku dengan mata abu-abumu,
Tak tahukah kamu, bahwa aku selalu memperhatikanmu?
Aku selalu mengingatmu dengan jelas:
Rambutmu yang terlihat kemerahan di bawah terik matahari, alismu yang tegas, rahangmu yang kokoh, bibirmu yang tipis, kulitmu yang kekuningan, badanmu yang tegap, dan mata abu-abumu yang selalu terlihat bersinar di kala kau bahagia.
Hari demi hari, kau makin terlihat sempurna bagiku.
Dear you, yang membuatku menyukai apa yang kubenci.
Aku merasa, kau begitu menikmati hidup ini. Kau begitu apa adanya, tak pernah jaim sekalipun. Dan mungkin itulah yang membuatmu selalu terlihat bahagia.
Kau selalu memandang sesuatu dari sisi yang berbeda. Kau menemukan apa yang orang biasa tidak bisa menemukannya. Kau membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.
Mengagumimu, membuatku ingin tahu segalanya tentangmu. Dan dari hari ke hari, kau membuatku menyukai apa yang kau sukai, termasuk apa yang selama ini kubenci.
Dear you, yang menganggapku seperti angin lalu.
Setelah peristiwa itu, tak sekalipun kau menyapaku. Aku bahkan ragu apakah kau mengetahui namaku. Kau menjalani hari-harimu seperti hari-hari sebelumnya: tanpa aku.
Apa aku ini transparan? Aku memang bukan seorang gadis yang cantik, pun bukan yang pintar. Aku tahu, aku tak pantas bersanding denganmu, orang yang hampir sempurna.
Dear you, yang telah kutunggu selama 3 tahun,
Selama itulah kau sudah bersarang dalam hati dan pikiranku. Selama itulah aku selalu ingin mencoba mendekatimu. Aku ingin menyapamu, dan berharap kau akan menyapaku balik. Tapi selama itu juga aku tak pernah melakukannya, karena aku takut kau akan menjauhiku setelah tahu perasaanku.
Hari ini tepat tiga tahun semenjak peristiwa hujan itu. Sampai sekarang, aku masih menunggumu. Sudah berkali-kali aku merasa lelah akan penantian yang mungkin sia-sia ini. Aku sudah mencoba untuk melupakanmu dan membuka hatiku pada cinta yang lain. Tapi, bagaimana aku bisa melupakanmu jika setiap waktu kau selalu memabukkanku dengan bayang-bayangmu?
Seandainya aku tahu harus berapa lama aku menunggu. Satu bulan? Dua bulan? Tiga bulan? Satu tahun pun akan ku lakukan. Apalah arti satu tahun dibandingkan dengan tiga tahun ini?
Harus sampai kapan aku menunggumu sampai kau bisa membuka matamu dan melihatku?
Dear you, my first love,
Kau membuatku selalu bertanya:
Why do I still keep wanting you, although I know that you'll never "see" me...?
Sunday, January 22, 2012
Dear you, my past....
Apakah kau menggunakan sihir?
Aku pikir aku sudah terlelap dalam kesibukanku sekarang dan melupakanmu.
Tapi kini bayangan wajahmu sering melayang-layang dalam pikiranku.
Kau adalah masa lalu yang kini kembali hadir dalam benakku dan membuatku rindu akan hadirmu.
Wajahmu memang tak seindah bulan, tapi binar matamu lebih cerah daripada matahari.
Kulitmu memang tak selembut kapas, tapi belaianmu lebih hangat daripada mantel musim dinginku.
Kau memang bukan pria yang sempurna, tapi kau membuat hari-hariku terasa begitu sempurna.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau mencuri-curi pandang ke arahku, dan mengalihkan wajahmu kembali saat aku menatapmu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat aku tersipu malu ketika temanku menggodaku karena kedekatanku denganmu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau mengirimkanku puluhan sms dan menanyakan kabarku tiap waktu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau ada di sampingku, dan berkata bahwa kau mencintaiku....
Tahukah kamu?
Bagiku adalah demikian:
Mengingatmu adalah kenikmatan, bersamamu adalah anugerah.
Aku menyesal atas ketololanku dan kemunafikanku.
Aku menyesal karena aku telah membohongimu dan membohongi diriku sendiri.
Aku menyesal karena membuatmu terluka hanya karena gengsi semata.
Aku menyesal atas hari dimana aku membuatmu pergi dari hidupku...
Mulanya, aku mengira bahwa aku tetap bisa hidup tanpamu.
Waktu akan menghapuskan kenangan-kenangan kita, pikirku.
Dan aku hampir berhasil, saat aku menyibukkan diriku dan berusaha memikirkan hal yang lain.
Tapi kini aku sadar, bahwa aku masih mengingatmu begitu jelas, walaupun ini sudah tiga tahun semenjak kau meninggalkanku.
Aku sadar, aku masih mencintaimu...
Tapi sekarang, apa yang bisa kulakukan?
Mengenai keberadaanmu, aku tidak tahu.
Aku pun tak tahu apakah kau juga masih menyimpan perasaanmu itu... atau kau telah memberikannya pada orang lain?
Kini, aku hanya bisa menunggu.
Menunggu saat dimana waktu akan menjawabnya: apakah nantinya bayang-bayangmu akan lenyap dengan sendirinya, ataukah waktu akan mempertemukan kita berdua dan menyatukan cinta kita?
Aku ingin bisa memilih, tapi aku ragu apakah waktu akan menyetujui pilihanku.
Aku ragu apakah waktu mendengarkan suara hatiku, yang sedang menangis karena merindukanmu.
Aku pikir aku sudah terlelap dalam kesibukanku sekarang dan melupakanmu.
Tapi kini bayangan wajahmu sering melayang-layang dalam pikiranku.
Kau adalah masa lalu yang kini kembali hadir dalam benakku dan membuatku rindu akan hadirmu.
Wajahmu memang tak seindah bulan, tapi binar matamu lebih cerah daripada matahari.
Kulitmu memang tak selembut kapas, tapi belaianmu lebih hangat daripada mantel musim dinginku.
Kau memang bukan pria yang sempurna, tapi kau membuat hari-hariku terasa begitu sempurna.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau mencuri-curi pandang ke arahku, dan mengalihkan wajahmu kembali saat aku menatapmu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat aku tersipu malu ketika temanku menggodaku karena kedekatanku denganmu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau mengirimkanku puluhan sms dan menanyakan kabarku tiap waktu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau ada di sampingku, dan berkata bahwa kau mencintaiku....
Tahukah kamu?
Bagiku adalah demikian:
Mengingatmu adalah kenikmatan, bersamamu adalah anugerah.
Aku menyesal atas ketololanku dan kemunafikanku.
Aku menyesal karena aku telah membohongimu dan membohongi diriku sendiri.
Aku menyesal karena membuatmu terluka hanya karena gengsi semata.
Aku menyesal atas hari dimana aku membuatmu pergi dari hidupku...
Mulanya, aku mengira bahwa aku tetap bisa hidup tanpamu.
Waktu akan menghapuskan kenangan-kenangan kita, pikirku.
Dan aku hampir berhasil, saat aku menyibukkan diriku dan berusaha memikirkan hal yang lain.
Tapi kini aku sadar, bahwa aku masih mengingatmu begitu jelas, walaupun ini sudah tiga tahun semenjak kau meninggalkanku.
Aku sadar, aku masih mencintaimu...
Tapi sekarang, apa yang bisa kulakukan?
Mengenai keberadaanmu, aku tidak tahu.
Aku pun tak tahu apakah kau juga masih menyimpan perasaanmu itu... atau kau telah memberikannya pada orang lain?
Kini, aku hanya bisa menunggu.
Menunggu saat dimana waktu akan menjawabnya: apakah nantinya bayang-bayangmu akan lenyap dengan sendirinya, ataukah waktu akan mempertemukan kita berdua dan menyatukan cinta kita?
Aku ingin bisa memilih, tapi aku ragu apakah waktu akan menyetujui pilihanku.
Aku ragu apakah waktu mendengarkan suara hatiku, yang sedang menangis karena merindukanmu.
Monday, January 9, 2012
Liebe dich... (Mencintaimu)
Kau membuatku nyaman dengan kata-katamu.
Kau membuatku merasa aku adalah gadis paling beruntung di dunia.
Kau membuatku tertidur lelap dengan senyum lebar yang mengembang di pipiku.
Dan aku merasa, bersamamu aku bahagia.
Wajahmu sering terbersit dalam pikiranku. Aku tak sabar menunggu waktu dimana aku bisa bersamamu.
Aku ingin hari esok cepat tiba, saat aku bisa melihat senyumanmu.
Tapi tak jarang pula kau menyakitiku.
Kata-katamu kadang menusuk hatiku.
Kau berbicara panjang denganku namun tanpa melibatkan aku di dalamnya.
Kau melupakanku sebegitu mudahnya ketika kau bicara tentangnya.
Aku tidak ingin meninggalkanmu walaupun kau melupakanku.
Entah kenapa aku ingin selalu disampingmu: mendengarkan ceritamu dan keluh kesahmu, walaupun itu mebuat hatiku teriris.
Aku tahu, harapan-harapan yang kauberikan hanyalah suatu harapan yang tak mungkin terwujud.
Tapi ku tak tahu mengapa hatiku tetap percaya terhadap harapan-harapanmu itu.
Walaupun kenyataan adalah yang berkebalikan.
Awalnya aku hanya ingin mengenalmu sebagai teman.
Tetapi, ketika aku mengenal sesuatu tentangmu, aku selalu menginginkan lebih.
Dan lama kelamaan, kita seperti sahabat dekat.
Kini, aku makin sering menghabiskan waktu denganmu.
Rasanya hari begitu kosong jika aku belum melihat wajahmu.
Semakin aku berusaha menghilangkan pikiranku darimu, makin sering bayang-bayangmu muncul dalam pikiranku.
Jujur, aku ingin bisa memilikimu.
Aku takut membayangkanmu menjawab tidak.
Kau sudah memilikinya.
Aku pun tahu dia adalah yang terbaik untukmu.
Kau bahagia bersamanya.
Tapi, bagaimanakah dengan perasaanku ini?
Aku sudah tak mungkin mengabaikannya.
Aku sudah terlanjur terjebak.
Terjebak dalam lubang cintamu.
Dan meski cintamu bukan untukku,
Ich möchte dir sagen,
dass ich dich liebe.
------------------------------------------------------
* Aku ingin berkata padamu, bahwa aku mencintaimu
Kau membuatku merasa aku adalah gadis paling beruntung di dunia.
Kau membuatku tertidur lelap dengan senyum lebar yang mengembang di pipiku.
Dan aku merasa, bersamamu aku bahagia.
Wajahmu sering terbersit dalam pikiranku. Aku tak sabar menunggu waktu dimana aku bisa bersamamu.
Aku ingin hari esok cepat tiba, saat aku bisa melihat senyumanmu.
Tapi tak jarang pula kau menyakitiku.
Kata-katamu kadang menusuk hatiku.
Kau berbicara panjang denganku namun tanpa melibatkan aku di dalamnya.
Kau melupakanku sebegitu mudahnya ketika kau bicara tentangnya.
Aku tidak ingin meninggalkanmu walaupun kau melupakanku.
Entah kenapa aku ingin selalu disampingmu: mendengarkan ceritamu dan keluh kesahmu, walaupun itu mebuat hatiku teriris.
Aku tahu, harapan-harapan yang kauberikan hanyalah suatu harapan yang tak mungkin terwujud.
Tapi ku tak tahu mengapa hatiku tetap percaya terhadap harapan-harapanmu itu.
Walaupun kenyataan adalah yang berkebalikan.
Awalnya aku hanya ingin mengenalmu sebagai teman.
Tetapi, ketika aku mengenal sesuatu tentangmu, aku selalu menginginkan lebih.
Dan lama kelamaan, kita seperti sahabat dekat.
Kini, aku makin sering menghabiskan waktu denganmu.
Rasanya hari begitu kosong jika aku belum melihat wajahmu.
Semakin aku berusaha menghilangkan pikiranku darimu, makin sering bayang-bayangmu muncul dalam pikiranku.
Jujur, aku ingin bisa memilikimu.
Aku takut membayangkanmu menjawab tidak.
Kau sudah memilikinya.
Aku pun tahu dia adalah yang terbaik untukmu.
Kau bahagia bersamanya.
Tapi, bagaimanakah dengan perasaanku ini?
Aku sudah tak mungkin mengabaikannya.
Aku sudah terlanjur terjebak.
Terjebak dalam lubang cintamu.
Dan meski cintamu bukan untukku,
Ich möchte dir sagen,
dass ich dich liebe.
------------------------------------------------------
* Aku ingin berkata padamu, bahwa aku mencintaimu
Tuesday, December 27, 2011
Dear diary, masih bolehkah aku berharap?
Dear Diary,
Kini aku sudah tak perlu mengecek e-mail setiap waktu.
Pun mengecek SMS dan kotak surat di depan rumah.
Semua sudah jelas.
Aku harus berterima kasih karena dia sudah menghapuskan kegalauanku selama ini.
Dan juga karena dia telah memberitahuku tentang keadaan yang sebenarnya.
Walaupun semua ini menyakitkan.
Aku mencoba tetap tersenyum saat mendengar berita yang tiba-tiba itu.
Aku menyayangkan kenapa kabar itu tidak datang di waktu aku sendiri.
Sehingga aku tak perlu memasang senyum yang melelahkan ini.
Dua jam.
Waktu yang sangat lama untuk berpura-pura tegar di hadapan semua orang.
Aku lelah.
Aku ingin sekali menumpahkan air mata ini dan menagis sepuasnya.
Aku berusaha menghibur diriku.
Bahwa aku sudah memberikan semua yang aku bisa.
Bahwa Tuhan akan memberiku yang lebih baik dari ini.
Tapi mengapa saat aku menghibur diriku sendiri, aku membayangkan sesuatu yang hampir mustahil?
Aku membayangkan jika ini hanyalah akal-akalannya sebelum memberitahu kabar yang sebenarnya -- yang aku harapkan.
Aku sudah gila, pikirku.
Aku tahu hidup ini tak seindah dongeng.
Dan mungkin di hidupku, aku bukan pemeran utamanya.
Aku bukan Cinderela.
Tapi serakakah aku jika ingin menjadi seperti Putri Cantik itu?
Diary, sekarang perasaanku telah membaik setelah bercerita padamu.
Tapi aku punya sesuatu yang aku ingin tahu jawabannya:
Masih bolehkah aku berharap -- ditengah keputusasaan ini -- agar takdir kembali di sisiku?
Thursday, December 15, 2011
Sebuah cerita tentang harapan
"Harapan itu kecil. Lebih baik kamu jangan terlalu berharap."
Kata-kata darimu mengguncang tubuhku. Kelopak mataku hampir tidak sanggup membendung bulir-bulir air yang makin lama makin menumpuk. Nafasku tercekat. Rasanya oksigen menjadi begitu sedikit. Kakiku bergetar lemas. Aku benar-benar kecewa.
Tak bolehkah aku berharap? Aku tahu kesempatan ini kecil. Sangat kecil malah. Tapi aku sangat ingin berharap. Aku ingin optimis. Tapi di lain sisi, aku tidak siap kalau harus menerima kenyataan yang berbeda dengan keinginanku.
Berbagai pikiran berkecamuk dalam pikiranku. Kenangan-kenangan akan harapan selalu terbersit dalam benakku.
Aku ingat kau pernah menyuruhku untuk optimis dan tetap fokus dalam usahaku. Kau menyuruhku untuk tidak melihat kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan kuhadapi. Kau selalu meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja setelah aku mengerahkan semua usahaku.
Aku masih ingat saat kau berkata, "Aku tahu, kamu pasti bisa." Kau selalu membuatku nyaman dengan kata-katamu itu. Kau tidak memberitahuku kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan bahwa ternyata harapan ini tak sebesar yang dulu kau ucapkan.
Kenapa baru sekarang? Kenapa kau baru memberitahuku bahwa kesempatannya begitu kecil, setelah aku melakukan semuanya? Aku begitu sakit hati.
Aku takut aku tidak bisa berhasil. Ya, aku takut gagal. Aku takut usahaku beberapa hari itu sia-sia. Aku sangat menginginkannya. Sangat menginginkannya sampai-sampai aku tidak memikirkan kemungkinan aku gagal.
Aku tahu kau menyuapiku dengan harapan-harapan itu agar aku bisa melakukan usaha maksimalku. Tapi sadarkah kau, bahwa secara tidak langsung kau bisa membuatku gila jika harapan itu tak terpenuhi?
Aku tidak bisa menyalahkanmu atas tindakanmu dulu. Tapi mengapa sekarang kau malah berkata sebaliknya? Mengatakan bahwa aku jangan terlalu berharap, karena peluangnya kecil.
Peluang, peluang, peluang. Itulah yang memenuhi benakku. Kenapa tidak ada peluang yang 100%? Peluang yang tak akan membuatku cemas dan gelisah seperti ini? Aku menyadari pertanyaan bodohku. Pertanyaan yang aku sendiri tahu jawabannya: karena ini hidup.
Mungkin orang-orang berpikir aku ini sudah gila tentang segala keoptimisanku. Aku bisa membayangkan orang-orang memasang muka kasihan kepadaku, kepada gadis yang tersiksa karena keoptimisannya sendiri. Aku tahu aku egois: tidak mau menerima apa yang berlawanan dengan keinginanku. Tapi apa kau bisa menganggapku egois setelah sekian lama aku hanya duduk diam dan bersabar sampai ada secercah harapan datang? Tak tahukah kau bahwa menunggu itu sangat menjemukan? Aku sudah hampir menangis saat aku membayangkan diriku gagal dan harus mulai dari awal: menunggu lagi.
Apakah aku salah kalau aku begitu optimis seperti ini? Apa aku salah jika aku sangat menginginkannya? Hampir semua orang di dekatku sudah memilikinya. Apakah aku berdosa jika aku berharap bisa memilikinya juga? Memilikinya dan membuktikan apa yang selama ini hanya bisa kudengar dari cerita-cerita mereka?
Tiba-tiba, aku merasakan tubuhku tertarik dalam dekapanmu. Hangat tubuhmu membuatku yakin, bukan yakin bahwa aku akan berhasil, tetapi yakin bahwa semua akan baik-baik saja walaupun aku gagal. Tubuhku menjadi lebih baik -- walaupun bendungan air mataku bobol. Aku menangis dalam pelukanmu. Namun, tangisan ini bukanlah tangisan sedih akan harapan yang memang kecil, melainkan tangisan lega karena aku tahu kau akan tetap mencintaiku, apapun hasilnya. =' )
Wednesday, December 14, 2011
Chef Choi's diary eps. 2 part 1
Lampu berubah menjadi merah. Mobil-mobil berjalan di sekitar kami -- aku dan Ikan Mas -- tapi kami tak peduli.
Ikan Mas bertanya kepadaku apakah aku mengajaknya berkencan karena merasa bersalah telah memecatnya. Aku menjawabnya dengan mudah, "Aku sama sekali tidak menyesal". Lalu aku menjelaskannya, "Tidak ada wanita di dapurku. Kau tidak dapat bekerja di dapurku."
Lampu berubah menjadi hijau lagi. Rasanya aku ingin sekali menggandeng tangannya, tetapi dia menyingkirkan tanganku dan entah kenapa karenanya aku jadi merasa begitu kecewa.
Rasanya, mulutku tidak terkoordinasi baik dengan hatiku. Aku justru berkata padanya untuk melakukan saja semaunya dan aku tidak peduli dengan wanita yang tidak menyukaiku.
Setelah aku mengatakannya, aku berjalan pergi tanpa menoleh. Aku sudah tidak ingin mendengar kata-kata darinya.
***
Paginya, aku sampai di La Sfera dengan mood yang bagus.
Aku masuk ke dapur aku memandangi ikan mas -- secara denotatif -- dan berbicara dengan mereka (aku tidak peduli kau akan menganggapku gila atau apa).
Setelah meminum kopi sejenak di ruanganku, aku beranjak ke loker. Aku tertarik untuk melepas nama-nama wanita dari loker-loker itu. Sesampainya di locker milik Ikan Mas, aku membentuk tanganku menjadi seperti pistol, dan "Puufh~," aku menembaknya sebelum melepas namanya.
Aku kaget sekali menemukan seseorang dalam lokerku. Dan itu adalah Ikan Mas! Dia tertidur dengan bau minuman keras.
Ikan Mas terbangun. Kami saling menatap kebingungan.
Ikan Mas: Kau pagi sekali.
Aku: Bukankah kau lebih pagi?
Lalu Ikan Mas menjelaskan bahwa dirinya tidak pulang ke rumah. Katanya, jika dia pulang, dia tidak punya keberanian untuk kembali.
Dan dia menggumam bahwa lokerku nyaman, besar, enak, dan hangat -- berkebalikan denganku.
Ia juga berkata, dia tidak akan berhenti dan akan terus bekerja di La Sfera. Ia sudah bekerja di sana selama tiga tahun sebelum akhirnya punya kesempatan untuk memasak.
Aku lalu memberitahunya bahwa ia benar-benar seperti ikan mas sebelum aku mengusirnya dari lokerku.
Tapi kakinya malah kram, membuatku terpaksa memijatnya. Aku masih ingat kata-kata yang ia ucapkan dengan memelas, "Aku ingin membuat pasta."
Sejujurnya, aku sedikit tersentuh dengan kata-katanya itu. Tetapi yang keluar dari mulutku hanyalah kata-kata yang kasar. Aku mengusirnya dari lokerku.
***
Aku lihat Ikan Mas tetap ngotot ingin bekerja. Ia berada bersama para koki yang lain saat meeting staf. Aku tidak mengusirnya, tetapi juga tidak menganggapnya ada. Betapa mengganggunya dia!
Aku mengubah menu hari ini. Tapi aku bisa merasakan para koki itu tidak bekerja dengan senang. Akhirnya, sesi makan siang kacau. Aku tak bisa mengendalikan kesabaranku dan berteriak sendiri. Sungguh gila aku saat itu!
Tak lama kemudian, aku mendapat ide bagus. Aku keluar ke ruang makan dan menghampiri tiga pemuda yang telah lama kukenal. Aku menyuruh mereka untuk menggantikan posisi ke-3 wanita yang telah kupecat.
Ikan Mas bertanya kepadaku apakah aku mengajaknya berkencan karena merasa bersalah telah memecatnya. Aku menjawabnya dengan mudah, "Aku sama sekali tidak menyesal". Lalu aku menjelaskannya, "Tidak ada wanita di dapurku. Kau tidak dapat bekerja di dapurku."
Lampu berubah menjadi hijau lagi. Rasanya aku ingin sekali menggandeng tangannya, tetapi dia menyingkirkan tanganku dan entah kenapa karenanya aku jadi merasa begitu kecewa.
Rasanya, mulutku tidak terkoordinasi baik dengan hatiku. Aku justru berkata padanya untuk melakukan saja semaunya dan aku tidak peduli dengan wanita yang tidak menyukaiku.
Setelah aku mengatakannya, aku berjalan pergi tanpa menoleh. Aku sudah tidak ingin mendengar kata-kata darinya.
***
Paginya, aku sampai di La Sfera dengan mood yang bagus.
Aku masuk ke dapur aku memandangi ikan mas -- secara denotatif -- dan berbicara dengan mereka (aku tidak peduli kau akan menganggapku gila atau apa).
Setelah meminum kopi sejenak di ruanganku, aku beranjak ke loker. Aku tertarik untuk melepas nama-nama wanita dari loker-loker itu. Sesampainya di locker milik Ikan Mas, aku membentuk tanganku menjadi seperti pistol, dan "Puufh~," aku menembaknya sebelum melepas namanya.
Aku kaget sekali menemukan seseorang dalam lokerku. Dan itu adalah Ikan Mas! Dia tertidur dengan bau minuman keras.
Ikan Mas terbangun. Kami saling menatap kebingungan.
Ikan Mas: Kau pagi sekali.
Aku: Bukankah kau lebih pagi?
Lalu Ikan Mas menjelaskan bahwa dirinya tidak pulang ke rumah. Katanya, jika dia pulang, dia tidak punya keberanian untuk kembali.
Dan dia menggumam bahwa lokerku nyaman, besar, enak, dan hangat -- berkebalikan denganku.
Ia juga berkata, dia tidak akan berhenti dan akan terus bekerja di La Sfera. Ia sudah bekerja di sana selama tiga tahun sebelum akhirnya punya kesempatan untuk memasak.
Aku lalu memberitahunya bahwa ia benar-benar seperti ikan mas sebelum aku mengusirnya dari lokerku.
Tapi kakinya malah kram, membuatku terpaksa memijatnya. Aku masih ingat kata-kata yang ia ucapkan dengan memelas, "Aku ingin membuat pasta."
Sejujurnya, aku sedikit tersentuh dengan kata-katanya itu. Tetapi yang keluar dari mulutku hanyalah kata-kata yang kasar. Aku mengusirnya dari lokerku.
***
Aku lihat Ikan Mas tetap ngotot ingin bekerja. Ia berada bersama para koki yang lain saat meeting staf. Aku tidak mengusirnya, tetapi juga tidak menganggapnya ada. Betapa mengganggunya dia!
Aku mengubah menu hari ini. Tapi aku bisa merasakan para koki itu tidak bekerja dengan senang. Akhirnya, sesi makan siang kacau. Aku tak bisa mengendalikan kesabaranku dan berteriak sendiri. Sungguh gila aku saat itu!
Tak lama kemudian, aku mendapat ide bagus. Aku keluar ke ruang makan dan menghampiri tiga pemuda yang telah lama kukenal. Aku menyuruh mereka untuk menggantikan posisi ke-3 wanita yang telah kupecat.
Subscribe to:
Posts (Atom)







