Maaf...
Atas harapan yang telah kutebarkan
Atas impian yang tak bisa terwujud ini
Ini adalah pertama kalinya bagiku
Saat doa-doaku dikabulkan oleh-Nya
Saat mimpi-mimpi mulai datang
Menghiasi hidupku
Dari awal aku tahu, bahwa ini mungkin tak bisa terwujud
Karena aku terlalu menginginkan impianku yang lain
Dan saat itu, aku rela membiarkan mimpiku ini menghancurkan mimpi lain itu
Namun, saat aku mendapatkan impian yang sangat kuinginkan
dan harus kehilangan mimpi lainku itu,
Mengapa aku tak rela?
Hatiku berbisik
menjawab perasaanku itu.
Ya. Karenamu.
Karena aku tak ingin kehilanganmu...
Kau datang saat semua telah berakhir.
Saat aku sudah mendapat apa yang kuimpikan.
Sedangkan kau hanya bisa hadir jika aku meraih mimpiku yang lain
yang telah dihancurkan oleh mimpi yang sangat kudambakan ini...
Aku telah memilih.
Dan mungkin itu pertanda bahwa kita memang ditakdirkan tidak untuk bersama
Kau memang bukanlah untukku
Terimakasih, atas segala perhatian yang kau berikan
Atas semangat yang kau berikan
Atas pelajaran yang begitu berharga
Aku berdoa selalu supaya Dia membalas segala kebaikanmu...
When I see the sky is cloudy,
I look into your deep eyes,
Do you know that the light in your eyes always makes me strong?
And then into your smile,
Do you know that your sweet smile always makes me feel better?
You always makes me feel alright, with your own way..
And I love it...
Thanks, my love...
Je t'aime...
Monday, May 28, 2012
Saturday, April 21, 2012
Unforgettable -- by Winna Efendi : A Unique Novel With Unforgettable Taste
Actually, I made this review for my school task :)
Ini adalah kisah yang berawal dari tatapan pertama dua
orang yang tidak saling mengenal. Tanpa mempertanyakan nama, mereka memulai segalanya.
Memulai percakapan diantara aroma anggur yang menguar dari dalam gelas, dan membuka
memori akan masa kecil diantara krat-krat anggur yang berdebu. Setiap malam
mereka lewati dengan berbagi rahasia yang bahkan tidak pernah mereka bicarakan
dengan orang-orang terdekat mereka.
Judul Buku :
Unforgettable
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 176 Halaman
Ini
adalah kisah singkat tentang seorang perempuan dan seorang lelaki yang dipertemukan
di sebuah kedai wine bernama Muse. Sang perempuan adalah adik dari pemilik kedai wine sedehana itu. Sedangkan sang
laki-laki adalah seorang eksekutif muda, yang selalu datang ke Muse menjelang
pukul sembilan malam.
Sedikit ironis, bukan, bagi dua orang yang tidak saling mengenal, tapi mengetahui lebih banyak mengenai satu sama lain dibanding orang lain, komentar lelaki itu.Sementara dua orang yang sangat dekat dapat merasa seperti orang asing bagi satu sama lain, perempuan itu menyahut.
Ini mungkin adalah kisah
biasa tentang kehidupan: tentang mencari dan menemukan, tentang mengingat dan
melupakan, juga tentang kebahagiaan dan kesedihan.
Ini adalah kisah fiksi yang terlalu nyata. Tanpa kebetulan-kebetulan dan hal-hal romantis yang dibuat-buat.
Ini adalah kisah fiksi yang terlalu nyata. Tanpa kebetulan-kebetulan dan hal-hal romantis yang dibuat-buat.
Dengan diksi mengagumkan
khas Winna Efendi, kisah ini memuat sedikit banyak deskripsi tentang wine. Winna
Efendi berhasil menyuguhkan rasa dan aroma anggur dalam tiap lembaran novel
ini. Tidak ada deskripsi yang berlebihan. Semua dikemas dengan kadar yang pas
dan nikmat bagi pembaca.
Seperti karya-karyanya yang
terdahulu, Winna berhasil mengemas cerita sederhana menjadi luar biasa. Yang berbeda
dari karya-karya sebelumnya, kali ini Winna menggunakan gaya menulis yang unik.
Antara dialog dan narasi hanya dibedakan dengan tulisan miring dan tidak miring.
Membuat pembaca menjadi lebih teliti dan menelusuri kata demi kata hingga
akhirnya terhanyut dalam percakapan kedua tokoh.
Walaupun plotnya sedikit
datar, namun hal ini tidak menurunkan derajat keistimewaan dari kisah cinta
ini. Novel yang cukup
tipis ini cocok untuk pembaca yang mencari bacaan ringan. Tiga adjective untuk keseluruhan: sweet, simple, and so unforgettable!
4.5 Stars!Dan mereka hanyalah dua orang asing yang tak saling mengenal.Kebetulan bertemu di suatu tempat, pada suatu titik waktu;masing-masing menggenggam ujung seutas benang merah.
Monday, April 2, 2012
After The Word "Fall in love" and "I"
Dear, Mus musculus
Mencitku yang selalu membuatku gundah dengan abstrakmu...
Aku tak tahu sejak kapan tepatnya rasa ini mulai mengendap-endap dalam relung hatiku.
Rasa yang begitu absurd.
Tak dapat didefinisikan dengan kata-kata,
Tapi juga begitu nyata.
Aku juga tak tahu sejak kapan nada-nada indah dalam suaramu mulai menggema di telingaku.
Nada-nada yang membentuk simfoni yang lebih indah dari yang terindah yang pernah kudengar.
Membuatku merindu akan denting melodi dalam setiap suku kata yang kau ucap.
Aku memang tidak mengingat dengan baik pertemuan pertama kita.
Saat itu benar-benar bias.
Bahkan, saat pertemuan kita selanjutnya, aku masih belum bisa mengingatmu.
Hanya satu yang kutahu, kau pernah hadir dalam hidupku setahun yang lalu.
Hingga pada saat itu...
Saat dimana aku mulai terpukau dengan pesonamu.
Saat dimana perasaan ini mulai muncul ke dinding hatiku.
Yang menyadarkanku, bahwa aku telah jatuh dalam lima kata penuh makna: CINTA
Cinta.
Begitu indahnya rasa itu.
Membuatku melayang, saat aku bisa mengecup aromamu.
Membuat debar jantungku menjadi lebih kencang saat menatap mata beningmu.
Membuat pipiku merona, saat nikmati seyuman nakalmu.
Dalam beberapa menit saja, Cinta berhasil membuat hadirmu menjadi penting dalam hidupku.
Kau lebih adiktif dari alkohol.
Makin kunikmati rasamu, makin sulit rasanya aku melepasmu.
Jujur, aku sakau akan candumu.
Meskipun demikian, waktu membuatku sadar.
Aku tak mungkin bisa bersatu denganmu.
Kita tak ditakdirkan untuk menjalani hidup bersama.
Namun,
Ijinkanlah aku, untuk kali ini saja.
Tuk nikmati rasamu.
Tuk mencintaimu.
.... Hingga pada saatnya, saat aku bisa rela melepasmu.
.... Karena setelah kata "jatuh cinta" dan "aku",
Ada "kamu".
Mencitku yang selalu membuatku gundah dengan abstrakmu...
Aku tak tahu sejak kapan tepatnya rasa ini mulai mengendap-endap dalam relung hatiku.
Rasa yang begitu absurd.
Tak dapat didefinisikan dengan kata-kata,
Tapi juga begitu nyata.
Aku juga tak tahu sejak kapan nada-nada indah dalam suaramu mulai menggema di telingaku.
Nada-nada yang membentuk simfoni yang lebih indah dari yang terindah yang pernah kudengar.
Membuatku merindu akan denting melodi dalam setiap suku kata yang kau ucap.
Aku memang tidak mengingat dengan baik pertemuan pertama kita.
Saat itu benar-benar bias.
Bahkan, saat pertemuan kita selanjutnya, aku masih belum bisa mengingatmu.
Hanya satu yang kutahu, kau pernah hadir dalam hidupku setahun yang lalu.
Hingga pada saat itu...
Saat dimana aku mulai terpukau dengan pesonamu.
Saat dimana perasaan ini mulai muncul ke dinding hatiku.
Yang menyadarkanku, bahwa aku telah jatuh dalam lima kata penuh makna: CINTA
Cinta.
Begitu indahnya rasa itu.
Membuatku melayang, saat aku bisa mengecup aromamu.
Membuat debar jantungku menjadi lebih kencang saat menatap mata beningmu.
Membuat pipiku merona, saat nikmati seyuman nakalmu.
Dalam beberapa menit saja, Cinta berhasil membuat hadirmu menjadi penting dalam hidupku.
Kau lebih adiktif dari alkohol.
Makin kunikmati rasamu, makin sulit rasanya aku melepasmu.
Jujur, aku sakau akan candumu.
Meskipun demikian, waktu membuatku sadar.
Aku tak mungkin bisa bersatu denganmu.
Kita tak ditakdirkan untuk menjalani hidup bersama.
Namun,
Ijinkanlah aku, untuk kali ini saja.
Tuk nikmati rasamu.
Tuk mencintaimu.
.... Hingga pada saatnya, saat aku bisa rela melepasmu.
.... Karena setelah kata "jatuh cinta" dan "aku",
Ada "kamu".
Tuesday, February 28, 2012
Für einen Mann
-- (Eigentlich ist das meine Deutsch Hausaufgabe) --
Für einen Mann, den ich zum erste mal unter dem Regen traf.
Danke für die warme Umarmung, als mein Herz kalt war.
Danke für das Licht deiner Augen, während meine Welt dunkel war.
Danke für die Ermutigung, als ich verzweifelt war.
Für einen Mann, der ein cooles Lächeln hat.
Danke für alles, was du mir gab.
Vergiss mich,
aber vergiss bitte nicht die schöne Zeit, die ich mit dir verwendete.
Ich bin sehr glücklich, weil ich dich kennen kann.
Für einen Mann, der mich liebte.
Darf ich mal sagen?
Ich will dich sehr vermissen.
Noch liebe ich dich.
:')
Tuesday, January 24, 2012
Why do...?
Dear you, yang telah memberiku sebuah kenangan di bawah hujan,
Masih ingatkah kau akan kenangan itu?
Hm... mungkin tidak...
Itu hanyalah peristiwa kecil.
Kala itu, kita berjalan bersama, di bawah payung bewarna biru laut milikmu. Hanya berjalan, hingga sampai ke halte bus. Kemudian aku mengucapkan terima kasih karena telah mengantarku ke halte bus.
Ya. itu memang hanya peristiwa kecil, tak lebih dari 5 menit.
Tapi bagiku, peristiwa itu sangat berarti, karena dari sanalah tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku.
Dear you, yang selalu membiusku dengan mata abu-abumu,
Tak tahukah kamu, bahwa aku selalu memperhatikanmu?
Aku selalu mengingatmu dengan jelas:
Rambutmu yang terlihat kemerahan di bawah terik matahari, alismu yang tegas, rahangmu yang kokoh, bibirmu yang tipis, kulitmu yang kekuningan, badanmu yang tegap, dan mata abu-abumu yang selalu terlihat bersinar di kala kau bahagia.
Hari demi hari, kau makin terlihat sempurna bagiku.
Dear you, yang membuatku menyukai apa yang kubenci.
Aku merasa, kau begitu menikmati hidup ini. Kau begitu apa adanya, tak pernah jaim sekalipun. Dan mungkin itulah yang membuatmu selalu terlihat bahagia.
Kau selalu memandang sesuatu dari sisi yang berbeda. Kau menemukan apa yang orang biasa tidak bisa menemukannya. Kau membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.
Mengagumimu, membuatku ingin tahu segalanya tentangmu. Dan dari hari ke hari, kau membuatku menyukai apa yang kau sukai, termasuk apa yang selama ini kubenci.
Dear you, yang menganggapku seperti angin lalu.
Setelah peristiwa itu, tak sekalipun kau menyapaku. Aku bahkan ragu apakah kau mengetahui namaku. Kau menjalani hari-harimu seperti hari-hari sebelumnya: tanpa aku.
Apa aku ini transparan? Aku memang bukan seorang gadis yang cantik, pun bukan yang pintar. Aku tahu, aku tak pantas bersanding denganmu, orang yang hampir sempurna.
Dear you, yang telah kutunggu selama 3 tahun,
Selama itulah kau sudah bersarang dalam hati dan pikiranku. Selama itulah aku selalu ingin mencoba mendekatimu. Aku ingin menyapamu, dan berharap kau akan menyapaku balik. Tapi selama itu juga aku tak pernah melakukannya, karena aku takut kau akan menjauhiku setelah tahu perasaanku.
Hari ini tepat tiga tahun semenjak peristiwa hujan itu. Sampai sekarang, aku masih menunggumu. Sudah berkali-kali aku merasa lelah akan penantian yang mungkin sia-sia ini. Aku sudah mencoba untuk melupakanmu dan membuka hatiku pada cinta yang lain. Tapi, bagaimana aku bisa melupakanmu jika setiap waktu kau selalu memabukkanku dengan bayang-bayangmu?
Seandainya aku tahu harus berapa lama aku menunggu. Satu bulan? Dua bulan? Tiga bulan? Satu tahun pun akan ku lakukan. Apalah arti satu tahun dibandingkan dengan tiga tahun ini?
Harus sampai kapan aku menunggumu sampai kau bisa membuka matamu dan melihatku?
Dear you, my first love,
Kau membuatku selalu bertanya:
Why do I still keep wanting you, although I know that you'll never "see" me...?
Masih ingatkah kau akan kenangan itu?
Hm... mungkin tidak...
Itu hanyalah peristiwa kecil.
Kala itu, kita berjalan bersama, di bawah payung bewarna biru laut milikmu. Hanya berjalan, hingga sampai ke halte bus. Kemudian aku mengucapkan terima kasih karena telah mengantarku ke halte bus.
Ya. itu memang hanya peristiwa kecil, tak lebih dari 5 menit.
Tapi bagiku, peristiwa itu sangat berarti, karena dari sanalah tumbuh benih-benih cinta dalam hatiku.
Dear you, yang selalu membiusku dengan mata abu-abumu,
Tak tahukah kamu, bahwa aku selalu memperhatikanmu?
Aku selalu mengingatmu dengan jelas:
Rambutmu yang terlihat kemerahan di bawah terik matahari, alismu yang tegas, rahangmu yang kokoh, bibirmu yang tipis, kulitmu yang kekuningan, badanmu yang tegap, dan mata abu-abumu yang selalu terlihat bersinar di kala kau bahagia.
Hari demi hari, kau makin terlihat sempurna bagiku.
Dear you, yang membuatku menyukai apa yang kubenci.
Aku merasa, kau begitu menikmati hidup ini. Kau begitu apa adanya, tak pernah jaim sekalipun. Dan mungkin itulah yang membuatmu selalu terlihat bahagia.
Kau selalu memandang sesuatu dari sisi yang berbeda. Kau menemukan apa yang orang biasa tidak bisa menemukannya. Kau membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.
Mengagumimu, membuatku ingin tahu segalanya tentangmu. Dan dari hari ke hari, kau membuatku menyukai apa yang kau sukai, termasuk apa yang selama ini kubenci.
Dear you, yang menganggapku seperti angin lalu.
Setelah peristiwa itu, tak sekalipun kau menyapaku. Aku bahkan ragu apakah kau mengetahui namaku. Kau menjalani hari-harimu seperti hari-hari sebelumnya: tanpa aku.
Apa aku ini transparan? Aku memang bukan seorang gadis yang cantik, pun bukan yang pintar. Aku tahu, aku tak pantas bersanding denganmu, orang yang hampir sempurna.
Dear you, yang telah kutunggu selama 3 tahun,
Selama itulah kau sudah bersarang dalam hati dan pikiranku. Selama itulah aku selalu ingin mencoba mendekatimu. Aku ingin menyapamu, dan berharap kau akan menyapaku balik. Tapi selama itu juga aku tak pernah melakukannya, karena aku takut kau akan menjauhiku setelah tahu perasaanku.
Hari ini tepat tiga tahun semenjak peristiwa hujan itu. Sampai sekarang, aku masih menunggumu. Sudah berkali-kali aku merasa lelah akan penantian yang mungkin sia-sia ini. Aku sudah mencoba untuk melupakanmu dan membuka hatiku pada cinta yang lain. Tapi, bagaimana aku bisa melupakanmu jika setiap waktu kau selalu memabukkanku dengan bayang-bayangmu?
Seandainya aku tahu harus berapa lama aku menunggu. Satu bulan? Dua bulan? Tiga bulan? Satu tahun pun akan ku lakukan. Apalah arti satu tahun dibandingkan dengan tiga tahun ini?
Harus sampai kapan aku menunggumu sampai kau bisa membuka matamu dan melihatku?
Dear you, my first love,
Kau membuatku selalu bertanya:
Why do I still keep wanting you, although I know that you'll never "see" me...?
Sunday, January 22, 2012
Dear you, my past....
Apakah kau menggunakan sihir?
Aku pikir aku sudah terlelap dalam kesibukanku sekarang dan melupakanmu.
Tapi kini bayangan wajahmu sering melayang-layang dalam pikiranku.
Kau adalah masa lalu yang kini kembali hadir dalam benakku dan membuatku rindu akan hadirmu.
Wajahmu memang tak seindah bulan, tapi binar matamu lebih cerah daripada matahari.
Kulitmu memang tak selembut kapas, tapi belaianmu lebih hangat daripada mantel musim dinginku.
Kau memang bukan pria yang sempurna, tapi kau membuat hari-hariku terasa begitu sempurna.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau mencuri-curi pandang ke arahku, dan mengalihkan wajahmu kembali saat aku menatapmu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat aku tersipu malu ketika temanku menggodaku karena kedekatanku denganmu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau mengirimkanku puluhan sms dan menanyakan kabarku tiap waktu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau ada di sampingku, dan berkata bahwa kau mencintaiku....
Tahukah kamu?
Bagiku adalah demikian:
Mengingatmu adalah kenikmatan, bersamamu adalah anugerah.
Aku menyesal atas ketololanku dan kemunafikanku.
Aku menyesal karena aku telah membohongimu dan membohongi diriku sendiri.
Aku menyesal karena membuatmu terluka hanya karena gengsi semata.
Aku menyesal atas hari dimana aku membuatmu pergi dari hidupku...
Mulanya, aku mengira bahwa aku tetap bisa hidup tanpamu.
Waktu akan menghapuskan kenangan-kenangan kita, pikirku.
Dan aku hampir berhasil, saat aku menyibukkan diriku dan berusaha memikirkan hal yang lain.
Tapi kini aku sadar, bahwa aku masih mengingatmu begitu jelas, walaupun ini sudah tiga tahun semenjak kau meninggalkanku.
Aku sadar, aku masih mencintaimu...
Tapi sekarang, apa yang bisa kulakukan?
Mengenai keberadaanmu, aku tidak tahu.
Aku pun tak tahu apakah kau juga masih menyimpan perasaanmu itu... atau kau telah memberikannya pada orang lain?
Kini, aku hanya bisa menunggu.
Menunggu saat dimana waktu akan menjawabnya: apakah nantinya bayang-bayangmu akan lenyap dengan sendirinya, ataukah waktu akan mempertemukan kita berdua dan menyatukan cinta kita?
Aku ingin bisa memilih, tapi aku ragu apakah waktu akan menyetujui pilihanku.
Aku ragu apakah waktu mendengarkan suara hatiku, yang sedang menangis karena merindukanmu.
Aku pikir aku sudah terlelap dalam kesibukanku sekarang dan melupakanmu.
Tapi kini bayangan wajahmu sering melayang-layang dalam pikiranku.
Kau adalah masa lalu yang kini kembali hadir dalam benakku dan membuatku rindu akan hadirmu.
Wajahmu memang tak seindah bulan, tapi binar matamu lebih cerah daripada matahari.
Kulitmu memang tak selembut kapas, tapi belaianmu lebih hangat daripada mantel musim dinginku.
Kau memang bukan pria yang sempurna, tapi kau membuat hari-hariku terasa begitu sempurna.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau mencuri-curi pandang ke arahku, dan mengalihkan wajahmu kembali saat aku menatapmu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat aku tersipu malu ketika temanku menggodaku karena kedekatanku denganmu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau mengirimkanku puluhan sms dan menanyakan kabarku tiap waktu.
Aku ingin bisa kembali ke masa saat kau ada di sampingku, dan berkata bahwa kau mencintaiku....
Tahukah kamu?
Bagiku adalah demikian:
Mengingatmu adalah kenikmatan, bersamamu adalah anugerah.
Aku menyesal atas ketololanku dan kemunafikanku.
Aku menyesal karena aku telah membohongimu dan membohongi diriku sendiri.
Aku menyesal karena membuatmu terluka hanya karena gengsi semata.
Aku menyesal atas hari dimana aku membuatmu pergi dari hidupku...
Mulanya, aku mengira bahwa aku tetap bisa hidup tanpamu.
Waktu akan menghapuskan kenangan-kenangan kita, pikirku.
Dan aku hampir berhasil, saat aku menyibukkan diriku dan berusaha memikirkan hal yang lain.
Tapi kini aku sadar, bahwa aku masih mengingatmu begitu jelas, walaupun ini sudah tiga tahun semenjak kau meninggalkanku.
Aku sadar, aku masih mencintaimu...
Tapi sekarang, apa yang bisa kulakukan?
Mengenai keberadaanmu, aku tidak tahu.
Aku pun tak tahu apakah kau juga masih menyimpan perasaanmu itu... atau kau telah memberikannya pada orang lain?
Kini, aku hanya bisa menunggu.
Menunggu saat dimana waktu akan menjawabnya: apakah nantinya bayang-bayangmu akan lenyap dengan sendirinya, ataukah waktu akan mempertemukan kita berdua dan menyatukan cinta kita?
Aku ingin bisa memilih, tapi aku ragu apakah waktu akan menyetujui pilihanku.
Aku ragu apakah waktu mendengarkan suara hatiku, yang sedang menangis karena merindukanmu.
Monday, January 9, 2012
Liebe dich... (Mencintaimu)
Kau membuatku nyaman dengan kata-katamu.
Kau membuatku merasa aku adalah gadis paling beruntung di dunia.
Kau membuatku tertidur lelap dengan senyum lebar yang mengembang di pipiku.
Dan aku merasa, bersamamu aku bahagia.
Wajahmu sering terbersit dalam pikiranku. Aku tak sabar menunggu waktu dimana aku bisa bersamamu.
Aku ingin hari esok cepat tiba, saat aku bisa melihat senyumanmu.
Tapi tak jarang pula kau menyakitiku.
Kata-katamu kadang menusuk hatiku.
Kau berbicara panjang denganku namun tanpa melibatkan aku di dalamnya.
Kau melupakanku sebegitu mudahnya ketika kau bicara tentangnya.
Aku tidak ingin meninggalkanmu walaupun kau melupakanku.
Entah kenapa aku ingin selalu disampingmu: mendengarkan ceritamu dan keluh kesahmu, walaupun itu mebuat hatiku teriris.
Aku tahu, harapan-harapan yang kauberikan hanyalah suatu harapan yang tak mungkin terwujud.
Tapi ku tak tahu mengapa hatiku tetap percaya terhadap harapan-harapanmu itu.
Walaupun kenyataan adalah yang berkebalikan.
Awalnya aku hanya ingin mengenalmu sebagai teman.
Tetapi, ketika aku mengenal sesuatu tentangmu, aku selalu menginginkan lebih.
Dan lama kelamaan, kita seperti sahabat dekat.
Kini, aku makin sering menghabiskan waktu denganmu.
Rasanya hari begitu kosong jika aku belum melihat wajahmu.
Semakin aku berusaha menghilangkan pikiranku darimu, makin sering bayang-bayangmu muncul dalam pikiranku.
Jujur, aku ingin bisa memilikimu.
Aku takut membayangkanmu menjawab tidak.
Kau sudah memilikinya.
Aku pun tahu dia adalah yang terbaik untukmu.
Kau bahagia bersamanya.
Tapi, bagaimanakah dengan perasaanku ini?
Aku sudah tak mungkin mengabaikannya.
Aku sudah terlanjur terjebak.
Terjebak dalam lubang cintamu.
Dan meski cintamu bukan untukku,
Ich möchte dir sagen,
dass ich dich liebe.
------------------------------------------------------
* Aku ingin berkata padamu, bahwa aku mencintaimu
Kau membuatku merasa aku adalah gadis paling beruntung di dunia.
Kau membuatku tertidur lelap dengan senyum lebar yang mengembang di pipiku.
Dan aku merasa, bersamamu aku bahagia.
Wajahmu sering terbersit dalam pikiranku. Aku tak sabar menunggu waktu dimana aku bisa bersamamu.
Aku ingin hari esok cepat tiba, saat aku bisa melihat senyumanmu.
Tapi tak jarang pula kau menyakitiku.
Kata-katamu kadang menusuk hatiku.
Kau berbicara panjang denganku namun tanpa melibatkan aku di dalamnya.
Kau melupakanku sebegitu mudahnya ketika kau bicara tentangnya.
Aku tidak ingin meninggalkanmu walaupun kau melupakanku.
Entah kenapa aku ingin selalu disampingmu: mendengarkan ceritamu dan keluh kesahmu, walaupun itu mebuat hatiku teriris.
Aku tahu, harapan-harapan yang kauberikan hanyalah suatu harapan yang tak mungkin terwujud.
Tapi ku tak tahu mengapa hatiku tetap percaya terhadap harapan-harapanmu itu.
Walaupun kenyataan adalah yang berkebalikan.
Awalnya aku hanya ingin mengenalmu sebagai teman.
Tetapi, ketika aku mengenal sesuatu tentangmu, aku selalu menginginkan lebih.
Dan lama kelamaan, kita seperti sahabat dekat.
Kini, aku makin sering menghabiskan waktu denganmu.
Rasanya hari begitu kosong jika aku belum melihat wajahmu.
Semakin aku berusaha menghilangkan pikiranku darimu, makin sering bayang-bayangmu muncul dalam pikiranku.
Jujur, aku ingin bisa memilikimu.
Aku takut membayangkanmu menjawab tidak.
Kau sudah memilikinya.
Aku pun tahu dia adalah yang terbaik untukmu.
Kau bahagia bersamanya.
Tapi, bagaimanakah dengan perasaanku ini?
Aku sudah tak mungkin mengabaikannya.
Aku sudah terlanjur terjebak.
Terjebak dalam lubang cintamu.
Dan meski cintamu bukan untukku,
Ich möchte dir sagen,
dass ich dich liebe.
------------------------------------------------------
* Aku ingin berkata padamu, bahwa aku mencintaimu
Tuesday, December 27, 2011
Dear diary, masih bolehkah aku berharap?
Dear Diary,
Kini aku sudah tak perlu mengecek e-mail setiap waktu.
Pun mengecek SMS dan kotak surat di depan rumah.
Semua sudah jelas.
Aku harus berterima kasih karena dia sudah menghapuskan kegalauanku selama ini.
Dan juga karena dia telah memberitahuku tentang keadaan yang sebenarnya.
Walaupun semua ini menyakitkan.
Aku mencoba tetap tersenyum saat mendengar berita yang tiba-tiba itu.
Aku menyayangkan kenapa kabar itu tidak datang di waktu aku sendiri.
Sehingga aku tak perlu memasang senyum yang melelahkan ini.
Dua jam.
Waktu yang sangat lama untuk berpura-pura tegar di hadapan semua orang.
Aku lelah.
Aku ingin sekali menumpahkan air mata ini dan menagis sepuasnya.
Aku berusaha menghibur diriku.
Bahwa aku sudah memberikan semua yang aku bisa.
Bahwa Tuhan akan memberiku yang lebih baik dari ini.
Tapi mengapa saat aku menghibur diriku sendiri, aku membayangkan sesuatu yang hampir mustahil?
Aku membayangkan jika ini hanyalah akal-akalannya sebelum memberitahu kabar yang sebenarnya -- yang aku harapkan.
Aku sudah gila, pikirku.
Aku tahu hidup ini tak seindah dongeng.
Dan mungkin di hidupku, aku bukan pemeran utamanya.
Aku bukan Cinderela.
Tapi serakakah aku jika ingin menjadi seperti Putri Cantik itu?
Diary, sekarang perasaanku telah membaik setelah bercerita padamu.
Tapi aku punya sesuatu yang aku ingin tahu jawabannya:
Masih bolehkah aku berharap -- ditengah keputusasaan ini -- agar takdir kembali di sisiku?
Thursday, December 15, 2011
Sebuah cerita tentang harapan
"Harapan itu kecil. Lebih baik kamu jangan terlalu berharap."
Kata-kata darimu mengguncang tubuhku. Kelopak mataku hampir tidak sanggup membendung bulir-bulir air yang makin lama makin menumpuk. Nafasku tercekat. Rasanya oksigen menjadi begitu sedikit. Kakiku bergetar lemas. Aku benar-benar kecewa.
Tak bolehkah aku berharap? Aku tahu kesempatan ini kecil. Sangat kecil malah. Tapi aku sangat ingin berharap. Aku ingin optimis. Tapi di lain sisi, aku tidak siap kalau harus menerima kenyataan yang berbeda dengan keinginanku.
Berbagai pikiran berkecamuk dalam pikiranku. Kenangan-kenangan akan harapan selalu terbersit dalam benakku.
Aku ingat kau pernah menyuruhku untuk optimis dan tetap fokus dalam usahaku. Kau menyuruhku untuk tidak melihat kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan kuhadapi. Kau selalu meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja setelah aku mengerahkan semua usahaku.
Aku masih ingat saat kau berkata, "Aku tahu, kamu pasti bisa." Kau selalu membuatku nyaman dengan kata-katamu itu. Kau tidak memberitahuku kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan bahwa ternyata harapan ini tak sebesar yang dulu kau ucapkan.
Kenapa baru sekarang? Kenapa kau baru memberitahuku bahwa kesempatannya begitu kecil, setelah aku melakukan semuanya? Aku begitu sakit hati.
Aku takut aku tidak bisa berhasil. Ya, aku takut gagal. Aku takut usahaku beberapa hari itu sia-sia. Aku sangat menginginkannya. Sangat menginginkannya sampai-sampai aku tidak memikirkan kemungkinan aku gagal.
Aku tahu kau menyuapiku dengan harapan-harapan itu agar aku bisa melakukan usaha maksimalku. Tapi sadarkah kau, bahwa secara tidak langsung kau bisa membuatku gila jika harapan itu tak terpenuhi?
Aku tidak bisa menyalahkanmu atas tindakanmu dulu. Tapi mengapa sekarang kau malah berkata sebaliknya? Mengatakan bahwa aku jangan terlalu berharap, karena peluangnya kecil.
Peluang, peluang, peluang. Itulah yang memenuhi benakku. Kenapa tidak ada peluang yang 100%? Peluang yang tak akan membuatku cemas dan gelisah seperti ini? Aku menyadari pertanyaan bodohku. Pertanyaan yang aku sendiri tahu jawabannya: karena ini hidup.
Mungkin orang-orang berpikir aku ini sudah gila tentang segala keoptimisanku. Aku bisa membayangkan orang-orang memasang muka kasihan kepadaku, kepada gadis yang tersiksa karena keoptimisannya sendiri. Aku tahu aku egois: tidak mau menerima apa yang berlawanan dengan keinginanku. Tapi apa kau bisa menganggapku egois setelah sekian lama aku hanya duduk diam dan bersabar sampai ada secercah harapan datang? Tak tahukah kau bahwa menunggu itu sangat menjemukan? Aku sudah hampir menangis saat aku membayangkan diriku gagal dan harus mulai dari awal: menunggu lagi.
Apakah aku salah kalau aku begitu optimis seperti ini? Apa aku salah jika aku sangat menginginkannya? Hampir semua orang di dekatku sudah memilikinya. Apakah aku berdosa jika aku berharap bisa memilikinya juga? Memilikinya dan membuktikan apa yang selama ini hanya bisa kudengar dari cerita-cerita mereka?
Tiba-tiba, aku merasakan tubuhku tertarik dalam dekapanmu. Hangat tubuhmu membuatku yakin, bukan yakin bahwa aku akan berhasil, tetapi yakin bahwa semua akan baik-baik saja walaupun aku gagal. Tubuhku menjadi lebih baik -- walaupun bendungan air mataku bobol. Aku menangis dalam pelukanmu. Namun, tangisan ini bukanlah tangisan sedih akan harapan yang memang kecil, melainkan tangisan lega karena aku tahu kau akan tetap mencintaiku, apapun hasilnya. =' )
Wednesday, December 14, 2011
Chef Choi's diary eps. 2 part 1
Lampu berubah menjadi merah. Mobil-mobil berjalan di sekitar kami -- aku dan Ikan Mas -- tapi kami tak peduli.
Ikan Mas bertanya kepadaku apakah aku mengajaknya berkencan karena merasa bersalah telah memecatnya. Aku menjawabnya dengan mudah, "Aku sama sekali tidak menyesal". Lalu aku menjelaskannya, "Tidak ada wanita di dapurku. Kau tidak dapat bekerja di dapurku."
Lampu berubah menjadi hijau lagi. Rasanya aku ingin sekali menggandeng tangannya, tetapi dia menyingkirkan tanganku dan entah kenapa karenanya aku jadi merasa begitu kecewa.
Rasanya, mulutku tidak terkoordinasi baik dengan hatiku. Aku justru berkata padanya untuk melakukan saja semaunya dan aku tidak peduli dengan wanita yang tidak menyukaiku.
Setelah aku mengatakannya, aku berjalan pergi tanpa menoleh. Aku sudah tidak ingin mendengar kata-kata darinya.
***
Paginya, aku sampai di La Sfera dengan mood yang bagus.
Aku masuk ke dapur aku memandangi ikan mas -- secara denotatif -- dan berbicara dengan mereka (aku tidak peduli kau akan menganggapku gila atau apa).
Setelah meminum kopi sejenak di ruanganku, aku beranjak ke loker. Aku tertarik untuk melepas nama-nama wanita dari loker-loker itu. Sesampainya di locker milik Ikan Mas, aku membentuk tanganku menjadi seperti pistol, dan "Puufh~," aku menembaknya sebelum melepas namanya.
Aku kaget sekali menemukan seseorang dalam lokerku. Dan itu adalah Ikan Mas! Dia tertidur dengan bau minuman keras.
Ikan Mas terbangun. Kami saling menatap kebingungan.
Ikan Mas: Kau pagi sekali.
Aku: Bukankah kau lebih pagi?
Lalu Ikan Mas menjelaskan bahwa dirinya tidak pulang ke rumah. Katanya, jika dia pulang, dia tidak punya keberanian untuk kembali.
Dan dia menggumam bahwa lokerku nyaman, besar, enak, dan hangat -- berkebalikan denganku.
Ia juga berkata, dia tidak akan berhenti dan akan terus bekerja di La Sfera. Ia sudah bekerja di sana selama tiga tahun sebelum akhirnya punya kesempatan untuk memasak.
Aku lalu memberitahunya bahwa ia benar-benar seperti ikan mas sebelum aku mengusirnya dari lokerku.
Tapi kakinya malah kram, membuatku terpaksa memijatnya. Aku masih ingat kata-kata yang ia ucapkan dengan memelas, "Aku ingin membuat pasta."
Sejujurnya, aku sedikit tersentuh dengan kata-katanya itu. Tetapi yang keluar dari mulutku hanyalah kata-kata yang kasar. Aku mengusirnya dari lokerku.
***
Aku lihat Ikan Mas tetap ngotot ingin bekerja. Ia berada bersama para koki yang lain saat meeting staf. Aku tidak mengusirnya, tetapi juga tidak menganggapnya ada. Betapa mengganggunya dia!
Aku mengubah menu hari ini. Tapi aku bisa merasakan para koki itu tidak bekerja dengan senang. Akhirnya, sesi makan siang kacau. Aku tak bisa mengendalikan kesabaranku dan berteriak sendiri. Sungguh gila aku saat itu!
Tak lama kemudian, aku mendapat ide bagus. Aku keluar ke ruang makan dan menghampiri tiga pemuda yang telah lama kukenal. Aku menyuruh mereka untuk menggantikan posisi ke-3 wanita yang telah kupecat.
Ikan Mas bertanya kepadaku apakah aku mengajaknya berkencan karena merasa bersalah telah memecatnya. Aku menjawabnya dengan mudah, "Aku sama sekali tidak menyesal". Lalu aku menjelaskannya, "Tidak ada wanita di dapurku. Kau tidak dapat bekerja di dapurku."
Lampu berubah menjadi hijau lagi. Rasanya aku ingin sekali menggandeng tangannya, tetapi dia menyingkirkan tanganku dan entah kenapa karenanya aku jadi merasa begitu kecewa.
Rasanya, mulutku tidak terkoordinasi baik dengan hatiku. Aku justru berkata padanya untuk melakukan saja semaunya dan aku tidak peduli dengan wanita yang tidak menyukaiku.
Setelah aku mengatakannya, aku berjalan pergi tanpa menoleh. Aku sudah tidak ingin mendengar kata-kata darinya.
***
Paginya, aku sampai di La Sfera dengan mood yang bagus.
Aku masuk ke dapur aku memandangi ikan mas -- secara denotatif -- dan berbicara dengan mereka (aku tidak peduli kau akan menganggapku gila atau apa).
Setelah meminum kopi sejenak di ruanganku, aku beranjak ke loker. Aku tertarik untuk melepas nama-nama wanita dari loker-loker itu. Sesampainya di locker milik Ikan Mas, aku membentuk tanganku menjadi seperti pistol, dan "Puufh~," aku menembaknya sebelum melepas namanya.
Aku kaget sekali menemukan seseorang dalam lokerku. Dan itu adalah Ikan Mas! Dia tertidur dengan bau minuman keras.
Ikan Mas terbangun. Kami saling menatap kebingungan.
Ikan Mas: Kau pagi sekali.
Aku: Bukankah kau lebih pagi?
Lalu Ikan Mas menjelaskan bahwa dirinya tidak pulang ke rumah. Katanya, jika dia pulang, dia tidak punya keberanian untuk kembali.
Dan dia menggumam bahwa lokerku nyaman, besar, enak, dan hangat -- berkebalikan denganku.
Ia juga berkata, dia tidak akan berhenti dan akan terus bekerja di La Sfera. Ia sudah bekerja di sana selama tiga tahun sebelum akhirnya punya kesempatan untuk memasak.
Aku lalu memberitahunya bahwa ia benar-benar seperti ikan mas sebelum aku mengusirnya dari lokerku.
Tapi kakinya malah kram, membuatku terpaksa memijatnya. Aku masih ingat kata-kata yang ia ucapkan dengan memelas, "Aku ingin membuat pasta."
Sejujurnya, aku sedikit tersentuh dengan kata-katanya itu. Tetapi yang keluar dari mulutku hanyalah kata-kata yang kasar. Aku mengusirnya dari lokerku.
***
Aku lihat Ikan Mas tetap ngotot ingin bekerja. Ia berada bersama para koki yang lain saat meeting staf. Aku tidak mengusirnya, tetapi juga tidak menganggapnya ada. Betapa mengganggunya dia!
Aku mengubah menu hari ini. Tapi aku bisa merasakan para koki itu tidak bekerja dengan senang. Akhirnya, sesi makan siang kacau. Aku tak bisa mengendalikan kesabaranku dan berteriak sendiri. Sungguh gila aku saat itu!
Tak lama kemudian, aku mendapat ide bagus. Aku keluar ke ruang makan dan menghampiri tiga pemuda yang telah lama kukenal. Aku menyuruh mereka untuk menggantikan posisi ke-3 wanita yang telah kupecat.
Saturday, December 10, 2011
Chef Choi's diary eps. 1 part 3
Pintu lift terbuka.
Lagi-lagi si Gadis Ikan Mas! *entah kenapa aku ingin menamainya Ikan Mas*
Rupanya dia juga tinggal di gedung ini, aku menyimpulkan.
Aku tak menanggapi ketika ia berkata masih merasa malu dan minta maaf karena mengira aku sebagai asisten barunya.
Aku justru mengingatkan tentang kencan malam ini padanya, kemudian aku langsung keluar.
Aku tak sabar menunggu malam ini.
Hari ini akan kubuat berbeda dengan kemarin.
Akulah yang berkuasa di dapur sekarang.
Sekarang akan kutunjukkan diriku yang sebenarnya.
Benar-benar payah!
Makan mereka seperti sampah.
Tak layak untuk disajikan, apalagi di restoran ternama seperti La Sfera.
"Prang!"
Kulempar makanan sampah itu ke lantai.
Mereka terlihat kaget, namun aku tak peduli.
Dan aku terus memberi mereka "kejutan-kejutan" yang lainnya.
Bagus. Keempat wanita sudah melakukan kesalahan. Termasuk Ikan Mas.
Ia tak sengaja membuat hujan minyak panas.
Namun entah kenapa, tubuhku langsung bergerak refleks untuk melindunginya dari minyak panas itu.
Setelah jam makan malam, aku menegur mereka, para gadis yang seharian telah membuat berbagai kesalahan.
Mereka sukses tercengang-cengang tidak percaya saat aku memecat mereka satu per satu.
Aku puas.
Tidak ada lagi wanita di dapurku.
"Bagaimanapun, kau tetap akan memecat wanita, bukan?" tuduh Ikan Mas saat kami bertemu di jalan malam harinya.
Memang benar. Aku merencanakannya dari awal. Dan ia sudah menyadarinya.
Oleh karena itu, aku tidak ingin menjawab.
Aku hanya bertanya, "Kau belum pernah berkencan dengan pria sebelumnya, kan?"
Aku lalu mendekat dan berkata padanya, "Ayo kita berkencan."
Entah kenapa aku merasa bahwa ia sangat menarik.
Chef Choi's diary eps. 1 part 2
Aku berjalan masuk dengan percaya diri.
Gadis yang kutemui kemarin memanggilku dan menyuruhku ikut berbaris.
Gadis yang kutemui kemarin memanggilku dan menyuruhku ikut berbaris.
Aku tak menanggapinya.
Aku menjabat tangan Presiden, lalu berjalan menuju ke depan barisan.
Lalu aku memperkenalkan diriku.
Aku kembali mengamati gadis itu.
Aku menjabat tangan Presiden, lalu berjalan menuju ke depan barisan.
Lalu aku memperkenalkan diriku.
Aku kembali mengamati gadis itu.
Ekspresi bingungnya membuatku tertawa dalam hati.
Cepat atau lambat, Ia harus menahan malu atas perbuatannya kemarin.
Cepat atau lambat, Ia harus menahan malu atas perbuatannya kemarin.
Aku menyalami para staf satu per satu.
Kubiarkan mereka terpesona padaku, sebelum kutunjukkan sisi lainku.
sampai akhirnya aku berjalan ke barisan terbelakang, tempat si gadis berdiri.
Kubiarkan mereka terpesona padaku, sebelum kutunjukkan sisi lainku.
sampai akhirnya aku berjalan ke barisan terbelakang, tempat si gadis berdiri.
Seo Yoo Kyung. Ia memperkenalkan dirinya -- tentu saja -- dengan malu-malu.
Aku tersenyum puas melihat tingkahnya.
Aku tersenyum puas melihat tingkahnya.
Di dapur, aku menyuruh para koki menyiapkan makan seperti biasa.
Aku mundur dengan tenang, dan melihat cara mereka bekerja.
Aku mundur dengan tenang, dan melihat cara mereka bekerja.
Si gadis -- Yoo Kyung maksudku -- tetap terlihat profesional, walaupun kami pernah bertemu sebelumnya.
Namun, cara memasaknya masih kacau balau.
Melihatnya menggoyang wajan dengan salah, aku lantas memberikannya contoh sebentar.
Tidak perlu lama, karena ia akan segera keluar dari dapur.
"Ini bukan dapurku. Dapurku baru akan mulai," kataku pada manajer saat restoran telah tutup.
Namun, cara memasaknya masih kacau balau.
Melihatnya menggoyang wajan dengan salah, aku lantas memberikannya contoh sebentar.
Tidak perlu lama, karena ia akan segera keluar dari dapur.
"Ini bukan dapurku. Dapurku baru akan mulai," kataku pada manajer saat restoran telah tutup.
Chef Choi's diary eps. 1 part 1
"Bruk"
Kulihat seorang gadis jatuh karena ditabrak seorang pria yang sedang terburu-buru.
Aku lantas menghampiri gadis itu untuk menolongnya.
Di tengah zebra cross, kulihat gadis itu sedang berusaha memungut ikan mas yang terlihat menggeliat sengsara.
Aku menyuruh gadis itu untuk merapatkan kedua tangannya. Lalu dengan cepat aku menaruh ikan mas sekarat itu di tangannya, kemudian menuang air ke dalamnya.
Kulihat lampu hampir berubah. Kusuruh gadis itu berlari ke trotoar. Aku mengikutinya sambil membawakan barang belanjaannya.
Untunglah kami tepat waktu.
Gadis itu berterima kasih padaku. Lalu kami saling mengucapkan selamat tinggal.
Eits!
Aku langsung tersadar. Bagaimana dengan belanjaan gadis itu?
Akhirnya aku bersedia membawakan belanjaan itu sampai tujuan si gadis.
Sesekali aku menuang air ke tangannya. Untuk mengusir kecanggungan diantara kami, aku melontarkan fakta lucu tentang ikan mas, yang hanya punya ingatan dua detik.
Sesampainya di tempat tujuan si gadis, entah kenapa rasanya aku enggan berpisah. Aku merasa kami saling tertarik. Aneh sekali.
Saat aku hendak pergi, tiba-tiba gadis itu ingat bahwa ia tidak dapat membuka pintu. Ia lalu memintaku untuk membukakan pintu.
Sungguh sulit menemukan kunci yang dimaksud gadis itu. Kuncinya tidak ada di dalam tas. Ia lantas menyuruhku mengambil kuncinya di kantong jaketnya.
"Apa kau sengaja berkata kau tidak ingat dimana kau meletakkan kuncimu agar aku mencari kemana-mana?" candaku pada gadis itu.
Beberapa saat kemudian, akhirnya aku menemukan kunci itu. Aku tidak langsung membukakan pintunya. AKu memikirkan sesuatu.
"Apa nanti malam kau bebas?" aku bertanya dengan sedikit cengiran. Kulihat gadis itu terperanjat. Ekspresinya sangat lucu, membuatku tertawa.
"Mengapa ragu-ragu? Kau seharusnya menolak jika diajak untuk pertama kalinya," kataku lagi.
Ia berkata bahwa ia bebas setelah jam 11 malam. Aku pun menjawab, "Pria dan wanita bertemu dalam kencan pertama mereka di waktu seperti itu hanya ada satu hal yang bisa dilakukan. Tidur bersama. Itu pasti bukan maksudmu, tapi aku senang dengan pikiran itu."
"Aku baru selesai kerja jam segitu. Aku hanya berpikir mau membelikan bir dan berterima kasih," katanya meluruskan.
"Kau bisa meletakkan ikan itu sebentar dan mencari kuncinya sendiri, tanpa membuatku merabanya kesana-kemari," sindirku kemudian
"Baik, ayo ketemu jam 11 malam. Di tempat yang sama, di jalan. Tidak malam ini, tidak besok pagi, tapi lusa. Aku pura-pura sudah ditolak malam ini dan besok pagi, demi harga dirimu, ok?" ajakku -- maksudku paksaku.
Ia tersenyum tanda setuju.
Aku pun membukakan pintunya kemudian.
Sebelum aku pergi, aku menanyakan di mana La Sfera karena aku akan bekerja di sana.
Aku sangat terkejut melihat tulisan La Sfera di balik pintu yang baru saja kubuka.
"Lalu, apa kau adalah koki... disini?" aku bertanya. Aku masih terkejut.
Bukannya menjawab pertanyaanku, ia justru memanggilku "Maknae", membuatku makin terkejut.
Ia lalu masuk ke dapur, meletakkan ikan mas pada gelas, lalu memperkenalkan dapur padaku. Ia juga meninggalkan bahasa formalnya, mengira bahwa aku adalah juniornya.
Aku tertawa dalam hati. Lucu sekali gadis ini, batinku.
Aku pun tidak berniat memberitahunya jabatanku yang sesungguhnya. Aku ingin menikmati permainannya, untuk saat ini.
Chef Choi's diary Prolog
Ini hanyalah karya kecilku sebagai seorang fans drama korea "Pasta". Aku sebenarnya menulis diary ini sebagai obat kerinduanku pada dramkor tersebut. : )
Mulanya aku cuma nge-share diary ini di grup FB. Tapi kupikir-pikir, lumayan juga kalau aku nge-share di Blog. Lebih jauh jangkauannya. *kaya iklan operator HP aja* : p
So, Happy reading! (oya, leave comments juga yaa )
***
Yoo Kyung: Buku apa ini, Chef? (mengambil sebuah buku di samping tempat tidur Chef)
Chef: Jangan dilihat! (Chef merebut buku itu dari tangan ikan mas). Ini diary-ku.
Yoo Kyung: Tak kusangka ternyata Chef punya diary.... Apa diary itu berisi resep-resep makanan juga, seperti yang dulu pernah Chef berikan padaku?
Chef: Tentu saja tidak. Kalau berisi resep, aku justru akan memberikannya padamu lagi, bukannya merahasiakannya.
(Yoo Kyung mengangguk-angguk)
Yoo Kyung: Berarti isinya seperti diary-diary biasa?
Chef: Tentu saja tidak.
Yoo Kyung: Lalu, apa spesialnya?
Chef: Spesialnya karena diary ini meceritakan kembali kisah kita.
Yoo Kyung: Benarkah, Chef?
(Chef tersenyum)
Yoo Kyung: Chef...
Chef: Iya, Ikan Mas..
Yoo Kyung: Ijinkan aku melihat diarymu.
Chef: Tidak kuijinkan.
Yoo Kyung: Chef... (sambil menggoyang-goyangkan bahu Chef)
Chef: Apa lagi, Ikan Mas?
Yoo Kyung: Diary... Aku ingin melihatnya... Bagaimanapun ini kisah kita, kan? Aku ingin mengingat-ingatnya lagi...
Chef: Kau belum pernah pacaran denganku ya?
Yoo Kyung: Tuh kan.... Chef malah mulai lagi...
(Chef tertawa)
Yoo Kyung: Ya sudah... Aku pergi saja!
Chef: Tunggu ikan mas! (mencekal tangan Yoo Kyung). Aku kan hanya bercanda.
Yoo Kyung: Jadi?
Chef: Kau boleh melihat isi diary ini, Ikan Mas... Asal jangan pergi... Aku bisa mati kalau kau pergi... (menyodorkan diary-nya pada Yoo Kyung)
Yoo Kyung: (Mengambil diary-nya). Ya, Chef. Aku tak akan pergi. Aku akan setia di sini sambil membaca diary Chef ini.
Chef: terima kasih, Ikan Mas-ku.
^^
Mulanya aku cuma nge-share diary ini di grup FB. Tapi kupikir-pikir, lumayan juga kalau aku nge-share di Blog. Lebih jauh jangkauannya. *kaya iklan operator HP aja* : p
So, Happy reading! (oya, leave comments juga yaa )
***
Yoo Kyung: Buku apa ini, Chef? (mengambil sebuah buku di samping tempat tidur Chef)
Chef: Jangan dilihat! (Chef merebut buku itu dari tangan ikan mas). Ini diary-ku.
Yoo Kyung: Tak kusangka ternyata Chef punya diary.... Apa diary itu berisi resep-resep makanan juga, seperti yang dulu pernah Chef berikan padaku?
Chef: Tentu saja tidak. Kalau berisi resep, aku justru akan memberikannya padamu lagi, bukannya merahasiakannya.
(Yoo Kyung mengangguk-angguk)
Yoo Kyung: Berarti isinya seperti diary-diary biasa?
Chef: Tentu saja tidak.
Yoo Kyung: Lalu, apa spesialnya?
Chef: Spesialnya karena diary ini meceritakan kembali kisah kita.
Yoo Kyung: Benarkah, Chef?
(Chef tersenyum)
Yoo Kyung: Chef...
Chef: Iya, Ikan Mas..
Yoo Kyung: Ijinkan aku melihat diarymu.
Chef: Tidak kuijinkan.
Yoo Kyung: Chef... (sambil menggoyang-goyangkan bahu Chef)
Chef: Apa lagi, Ikan Mas?
Yoo Kyung: Diary... Aku ingin melihatnya... Bagaimanapun ini kisah kita, kan? Aku ingin mengingat-ingatnya lagi...
Chef: Kau belum pernah pacaran denganku ya?
Yoo Kyung: Tuh kan.... Chef malah mulai lagi...
(Chef tertawa)
Yoo Kyung: Ya sudah... Aku pergi saja!
Chef: Tunggu ikan mas! (mencekal tangan Yoo Kyung). Aku kan hanya bercanda.
Yoo Kyung: Jadi?
Chef: Kau boleh melihat isi diary ini, Ikan Mas... Asal jangan pergi... Aku bisa mati kalau kau pergi... (menyodorkan diary-nya pada Yoo Kyung)
Yoo Kyung: (Mengambil diary-nya). Ya, Chef. Aku tak akan pergi. Aku akan setia di sini sambil membaca diary Chef ini.
Chef: terima kasih, Ikan Mas-ku.
^^
Friday, December 9, 2011
Sag mir, dass du mich liebst. -- Katakan padaku bahwa kau mencintaiku
Kau benar-benar pria yang jenius. Kau pintar sekali membuatku gelisah. Kau selalu mengerti bagaimana membuatku gundah. Kau sangat mahir menembus otakku dan membuatku memikirkanmu sepanjang hari.
Tahukah kamu bagaimana sedihnya aku saat kau meninggalkanku? Kau pergi jauh tanpa mengatakan apapun padaku. Kau tak pernah sesekali mencoba untuk menghubungiku. Kau meninggalkanku dalam sebuah kegalauan.
Tahukah kamu betapa aku menginginkanmu? Aku ingin menjadi bagian dalam hidupmu. Menjadi air di saat kau haus, menjadi obat bius saat kau kesakitan, dan menjadi saputangan yang bisa menghapus airmata sedihmu.
Aku tak keberatan meruntuhkan harga diriku. Aku rela mengatakan rasa terpendam ini lebih dulu. Tahukah kamu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan alamatmu yang baru? Ke sanalah aku telah mengirimkanmu berpuluh-puluh surat tentang perasaanku. Aku juga telah mengirimkanmu SMS dan email tiap hari yang isinya sama (bahwa aku mencintaimu) -- yang belum pernah satu pun kau balas.
Tak tahukah kau bagaimana kekecewaanku ketika surat yang datang ternyata bukan darimu? Saat ponselku berdering dan yang masuk bukanlah SMS balasanmu? Dan saat aku membuka email, hanya ada spam yang selalu memenuhi inbox-ku?
Apakah kau benar-benar sudah tidak ingin bersamaku? Apa kau sudah bosan menjalin hubungan denganku? Aku benci berpikir bahwa kau seperti anak kecil yang sangat menyayangi mainan barunya, tetapi meninggalkannya saat ia sudah bosan. Aku benci diriku sendiri karena masih mencintai pria sepertimu.
Berilah aku satu kalimat saja. Beri tahu aku bahwa kau juga mencintaiku. Maka aku akan menunggumu. Menunggumu kembali ke sisiku dan menghapus pikiran buruk tentangmu.
Atau beri tahu aku bahwa kau tidak merasakan cinta seperti yang kurasakan. Aku akan menghargai kata-kata dan perasaanmu. Tapi, jangan lupa bahwa München dan Leipzig telah menjadi saksi bisu tumbuhnya kenangan indah kita. Kenangan ketika aku berada dalam dekapanmu dan melihat binar-binar cinta di bola matamu. Kau tak bisa memungkiri hal itu.
Also, sag mir dass du mich liebst.
Tahukah kamu bagaimana sedihnya aku saat kau meninggalkanku? Kau pergi jauh tanpa mengatakan apapun padaku. Kau tak pernah sesekali mencoba untuk menghubungiku. Kau meninggalkanku dalam sebuah kegalauan.
Tahukah kamu betapa aku menginginkanmu? Aku ingin menjadi bagian dalam hidupmu. Menjadi air di saat kau haus, menjadi obat bius saat kau kesakitan, dan menjadi saputangan yang bisa menghapus airmata sedihmu.
Aku tak keberatan meruntuhkan harga diriku. Aku rela mengatakan rasa terpendam ini lebih dulu. Tahukah kamu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan alamatmu yang baru? Ke sanalah aku telah mengirimkanmu berpuluh-puluh surat tentang perasaanku. Aku juga telah mengirimkanmu SMS dan email tiap hari yang isinya sama (bahwa aku mencintaimu) -- yang belum pernah satu pun kau balas.
Tak tahukah kau bagaimana kekecewaanku ketika surat yang datang ternyata bukan darimu? Saat ponselku berdering dan yang masuk bukanlah SMS balasanmu? Dan saat aku membuka email, hanya ada spam yang selalu memenuhi inbox-ku?
Apakah kau benar-benar sudah tidak ingin bersamaku? Apa kau sudah bosan menjalin hubungan denganku? Aku benci berpikir bahwa kau seperti anak kecil yang sangat menyayangi mainan barunya, tetapi meninggalkannya saat ia sudah bosan. Aku benci diriku sendiri karena masih mencintai pria sepertimu.
Berilah aku satu kalimat saja. Beri tahu aku bahwa kau juga mencintaiku. Maka aku akan menunggumu. Menunggumu kembali ke sisiku dan menghapus pikiran buruk tentangmu.
Atau beri tahu aku bahwa kau tidak merasakan cinta seperti yang kurasakan. Aku akan menghargai kata-kata dan perasaanmu. Tapi, jangan lupa bahwa München dan Leipzig telah menjadi saksi bisu tumbuhnya kenangan indah kita. Kenangan ketika aku berada dalam dekapanmu dan melihat binar-binar cinta di bola matamu. Kau tak bisa memungkiri hal itu.
Also, sag mir dass du mich liebst.
Saturday, November 5, 2011
Refrain, by Winna Efendi
Refrain: novel karya Winna Efendi yang pertama kali aku baca. Jujur deh, dulu, aku nggak kenal penulis dengan nama "Winna Efendi" (mungkin karena dulu aku cuma baca teenlit terbitan gramed) sebelum temenku "pamer" novel Refrain ke sekolah.
Pertama-tama liat novel ini, yang kulihat adalah covernya *ya iya lah*. Kalau menurutku, covernya unik banget: ada amplopnya! Dan ternyata di dalam amplop ada tulisan "It's always been you". Keren banget kan....
Sinopsisnya gak kalah keren sama covernya lho... Begini sinopsisnya:
Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.Kalau bicara tentang isi, menurutku --dan beberapa temanku yang sudah membaca buku ini-- ceritanya sangat sederhana. Tentang cinta yang tumbuh ke sahabat kecil. Kalau mau tahu isi selengkapnya, bisa baca sendiri novelnya... : D
**
Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cinta harus ada yang terluka.
Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai.
Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri.
**
Tapi, walaupun sederhana --seperti yang tertulis di sinopsis "Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa"-- kak Winna Effendi mampu menyajikannya dengan gaya menulis yang gak ada tandingannya. Ceritanya bisa begitu mengalir dan enak dibaca. Cocok banget buat kamu yang suka novel ringan.
Kekurangan novel ini? Hm... Apa ya? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang~ *lho?*
Karena aku juga gak tahu kekurangannya apa.... : )
Dan yang terakhir, aku cuma mau bilang: abis baca novel ini, jangan kaget kalau kamu bakal pengen baca novelnya kak Winna yang lain. Hehe..
Tuesday, November 1, 2011
Bioloveculer #3 : I love you, more than I love biology

I love learning about glycolysis,
But I love learning about your gestures more.
I love imagining about the cell's activity,
But I love imagining about your daily activities more.
I love looking at the DNA's structure,
But I love looking at your eyes more.
I love remembering about the metabolism process,
But I love remembering about your sweet fragrance more.
I love molecular biology,
But I love you more.
Monday, October 31, 2011
Bioloveculer #2 : Broken Heart
I guest, Our love will lasts forever,
Even when we have been in the heaven.
But, my guess is incorrect.
Your another love enters our Love Cell.
And makes some Deletion Mutations
In our Faith Chromosomes.
Do you know how sad I am?
Because you had done the autolysis in our Love Cell
Before our Love Cell could be replicated.
However,
You have to know
Whenever you are
Wherever you go
I will always love you
Even though you have broken my heart... :' )
Saturday, October 29, 2011
God will give you the best!
Pernahkah kamu mengalami saat dimana hidup terasa begitu membingungkan?
Pernahkah kamu mengalami saat dimana hidup terasa penuh dengan ketidak adilan?
Pernahkah kamu mengalamu saat dimana hidup terasa menyedihkan dan memilukan?
Pernahkah kamu merasa bahwa kamu sudah berusaha keras, tetapi takdir tak memihak padamu?
Pernahkah kamu merasa bahwa kamu sudah yakin tentang keberhasilanmu, tetapi takdir berkata lain?
Begitu menyakitkan, bukan?
Apalagi kamu telah mencobanya berkali kali, namun tetap gagal juga.
Apakah rasa sakit itu membuatmu menangis?
Atau membuatmu memaki Tuhan karena dia tidak mengabulkan doamu?
Atau membuatmu rendah diri dan tak berani lagi menatap masa depan?
Atau membuatmu lebih memilih pesimis daripada optimis, karena optimis membuatmu 2x lebih sakit saat keinginanmu tak terkabul?
Tapi, sadarkah kamu?
Bahwa kegagalan bisa membuatmu menjadi lebih baik.
Bahwa kegagalan bisa membuatmu terpacu untuk lebih bekerja keras.
Bahwa kegagalan bisa membuat kemenanganmu kelak menjadi begitu menggembirakan.
Dan percayalah,
Walaupun takdir tak bisa ditebak, tetapi takdir akan berada di sisimu. Suatu saat nanti.
Lagi pula, setiap kali kamu gagal (saat sudah berusaha semaksimal mungkin) berarti Tuhan memindahkan kemenanganmu ke waktu yang lain.
Maka, optimislah bahwa Tuhan akan memberimu yang terbaik.
God Bless You :)
Pernahkah kamu mengalami saat dimana hidup terasa penuh dengan ketidak adilan?
Pernahkah kamu mengalamu saat dimana hidup terasa menyedihkan dan memilukan?
Pernahkah kamu merasa bahwa kamu sudah berusaha keras, tetapi takdir tak memihak padamu?
Pernahkah kamu merasa bahwa kamu sudah yakin tentang keberhasilanmu, tetapi takdir berkata lain?
Begitu menyakitkan, bukan?
Apalagi kamu telah mencobanya berkali kali, namun tetap gagal juga.
Apakah rasa sakit itu membuatmu menangis?
Atau membuatmu memaki Tuhan karena dia tidak mengabulkan doamu?
Atau membuatmu rendah diri dan tak berani lagi menatap masa depan?
Atau membuatmu lebih memilih pesimis daripada optimis, karena optimis membuatmu 2x lebih sakit saat keinginanmu tak terkabul?
Tapi, sadarkah kamu?
Bahwa kegagalan bisa membuatmu menjadi lebih baik.
Bahwa kegagalan bisa membuatmu terpacu untuk lebih bekerja keras.
Bahwa kegagalan bisa membuat kemenanganmu kelak menjadi begitu menggembirakan.
Dan percayalah,
Walaupun takdir tak bisa ditebak, tetapi takdir akan berada di sisimu. Suatu saat nanti.
Lagi pula, setiap kali kamu gagal (saat sudah berusaha semaksimal mungkin) berarti Tuhan memindahkan kemenanganmu ke waktu yang lain.
Maka, optimislah bahwa Tuhan akan memberimu yang terbaik.
"The darkest night is often the bridge to the brightest tomorrow" - Jonathan Lockwood
God Bless You :)
Tuesday, October 11, 2011
BioLovecular : Biomolecular lover's love words
Aku dan kamu...
Kita seperti basa purin dan pirimidin yang saling melengkapi
Membentuk untaian cinta yang lebih panjang daripada DNA dalam kromosom tubuh kita sendiri
Aku dan kamu...
Kita bersatu membentuk cinta yang bulat tak berujung
Seperti DNA sirkuler pada bakteri: plasmid
Aku dan kamu...
Tak ada intron dalam cinta kita
Semuanya ekson
Karena buah-buah cinta kita selalu bermakna
Tahukah kamu?
Bahwa kamu seperti Magnesium.
Eh tidak, maksudku kamu benar-benar Magnesium
Kamu adalah pusat cincin porifin dalam hijaunya klorofil cinta di hatiku.
with love,
Your Love
Subscribe to:
Posts (Atom)



















